Kabut

Aku akan menceritakan satu kisah tentang seorang pemuda yang sedang menempuh perjalanan hidupnya.

Seorang pemuda dengan senyum di wajahnya terlihat sedang dalam perjalanan, ekspektasi-ekspektasi tersusun rapi di kepala, rencana-rencana ke depan sudah mantap untuk terlaksana, dan pilihan sudah dipilah untuk dipilih.

Namun…

Kabut tebal datang seketika. Gelap. Semua gelap. Harapan-harapan menjadi samar tak terlihat.

“Kenapa ini?”

“Kenapa saat semua sudah tersusun begitu rapi malah ada kabut yang menyelimuti? Aku tak bisa melanjutkan perjalanan, ini terlalu gelap untukku.”

Hari berlalu, dunia tetap berjalan, waktu tetap berputar, namun ia hanya diam.

Burung berputar-putar di atas kepalanya membuat pemuda itu berpikir,

“Burung ini mungkin juga terjebak.”

Namun dugaannya salah, beberapa detik kemudian burung itu telah lenyap setelah terbang lurus ke depan.

“Apa aku bisa terbebas dari sini?”

Tekad menyulutnya untuk bangkit.

“Aku tak boleh terus di sini, aku harus terus berjalan.”

Meski jarak pandang akan jalan di depannya sangat pendek, namun hatinya tetap menyerukan untuk tetap melangkah, dan ia mengikutinya, entah apa yang ada di depan nanti, pemuda itu hanya perlu tetap berjalan…

Bagaimana akhirnya?

Entah aku pun tak tau, setidaknya pemuda itu berusaha keluar dari kabut. Bukankan menurutmu itu pilihan masuk akal daripada diam tanpa pergerakan? Kuharap pemuda itu segera menemukan jalan yang tepat untuknya.

Untuk kamu yang tengah diselimuti kabut, semoga kamu bisa menguatkan hatimu untuk kembali melangkah.

4.8 4 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top