Perjalanan Mencari Bahagia

Mendefinisikan bahagia mungkin memang tidak semudah yang dibayangkan. Saya pun melalui proses yang panjang dalam memaknainya. 

Seperti kebanyakan orang lain, bahagia bagi saya adalah mempunyai banyak uang. Dengan uang saya merasa bisa melakukan apa saja dan pergi ke mana saja; membeli kebahagiaan, kalau kata saya. 

Mengapa? Karena saya selalu merasa kurang. Kurang cantik, maka solusinya adalah membeli lebih banyak produk skincare. Kurang stylish, maka jawabannya adalah membeli banyak baju. Kurang gaul, maka jawabannya adalah membeli berbagai produk gadget terbaru, meskipun sebenarnya saya sedang tidak membutuhkannya. Dulu saya menganggap bahwa dengan uang, semua kekurangan tersebut bisa terpenuhi.

Karena lahir di keluarga yang sederhana, saya pun bekerja. Saya bekerja sangat keras, setiap harinya tidak mengenal libur, melewati waktu makan, melupakan teman dan keluarga, mengumpulkan pundi-pundi uang untuk mencari bahagia. 

Tanpa disadari, saya semakin jauh tenggelam dan mabuk akan potret bahagia yang selama ini telah saya bangun.

Pada akhirnya, saya telah menabung cukup banyak uang. Namun, saya tidak menemukan bahagia itu. Semua terasa hampa. Wajah yang glowing karena produk skincare yang mahal nyatanya tidak memberi saya pasangan. Tampilan yang lebih stylish tidak mampu membawa lebih banyak orang untuk tulus menyayangi saya. Gadget yang mahal nyatanya tidak dapat menjadi alat komunikasi yang mampu menghubungkan saya dengan teman dan keluarga.

Lalu, di mana letak bahagia tersebut? Apakah selama ini saya telah ditipu oleh pikiran saya sendiri? Dengan tumpukan cash yang saya miliki, mengapa saya masih terus merasa kurang?

Setelah merenungi perjalanan mencari bahagia ini, saya menyadari bahwa saya tidak sepenuhnya menderita ketika harus bekerja. Sering kali, saya menemukan bahagia-bahagia kecil di dalamnya, seperti saat mendapatkan gaji pertama kali, saat berhasil mengirimkan orang tua di kampung sejumlah uang, saat mendengar pujian atas kerja keras selama ini dari client dan atasan. 

Perlahan saya pun menyadari bahwa bahagia bukanlah satu tujuan akhir yang harus dicapai, melainkan berupa sebuah siklus yang sangat mungkin untuk ditemui setiap harinya.

Menjadi manusia berarti selalu merasa kurang, dan hal ini sejatinya merupakan suatu hal yang wajar. Bahkan, merasa kurang adalah jalan bagi kita menemui bahagia setiap hari. 

Ketika kita merasa kurang akan prestasi, kita akan bekerja keras dalam mengikuti suatu kompetisi dan pada akhirnya memenangkannya. Ketika kita merasa kurang akan materi, kita akan bekerja keras untuk mendapatkannya. 

Dalam hal ini, bahagia pun datang. Ketika mendapatkan gaji setiap bulannya, ketika nama kita disebut sebagai karyawan terbaik, ketika kita berhasil menyelesaikan suatu masalah yang rumit, bahagia akan datang.

Dengan ini, maka makna dari bahagia saya pun bergeser. Saya kemudian menyimpulkan bahwa selama ini saya telah salah melabeli keinginan-keinginan dalam hidup tadi; bahwa ternyata mempunyai banyak uang dan membeli segala hal itu hanyalah kesenangan semata, yang tentunya tidak akan dapat bertahan lama. 

Saya juga sampai pada suatu kesimpulan bahwa bahagia itu hanya sebuah emosi biasa, sama halnya seperti marah, sedih, dan lainnya. Emosi ini bisa datang dan pergi, dan oleh karenanya tidak akan pernah abadi. 

Setelah bekerja keras dari pukul 9 pagi, pasti akan ada rehat pada pukul 5 sore. Setelah berpuasa seharian, pasti akan datang waktu berbuka. Setelah hujan, pasti akan ada pelangi. Setelah masalah, pasti akan ada bahagia.

Dengan begitu, maka mencari bahagia bukanlah suatu hal yang mustahil dan masing-masing dari manusia pasti dapat menemuinya; setiap hari, setiap waktu, setelah kesedihan dan atau kegelapan. 

3.7 3 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top