Melangkah Bebas pada 2020

2020 menjadi tahun di mana kita semua tidak bisa bergerak bebas. Tapi uniknya, tahun ini menjadi awal untuk saya sehingga bisa melangkah dengan bebas. Tahun ini adalah tahun pertama saya membuat Menjadi Manusia sebagai pekerjaan utama saya. Memang, dua tahun lalu saya sudah membuat Menjadi Manusia bersama teman-teman saya, Adam dan Rhaka. Berbeda dengan mereka, saya merupakan yang terakhir yang memutuskan untuk keluar dari pekerjaan tetap waktu itu.

Awalnya, saya pikir Menjadi Manusia hanya akan menjadi sebuah proyek passion saja. Biasanya, saya meluangkan waktu untuk mengerjakan pekerjaan di Menjadi Manusia sepulang saya kerja. Tapi perkembangannya yang begitu pesat membuat saya ingin mengurusnya penuh waktu. Tentu ada berbagai macam hal saya pertimbangkan. Bayangkan saja, saya besar di keluarga yang mayoritas bekerja di sebuah korporasi, tidak satu pun ada yang berbisnis. Dan, ketika saya memilih untuk menghabiskan waktu mengurus Menjadi Manusia, rasanya seperti terjun bebas, tidak seperti pekerja yang aman bekerja di sebuah korporasi: gaji per bulan aman, asuransi aman, bahkan transportasi dan konsumsi juga biasanya disediakan. Berbisnis dan membuat sebuah lapangan pekerjaan baru adalah tantangan baru buat saya. Tapi, memang ini adalah sesuatu yang saya impikan sedari kecil. Saya pun juga sangat suka untuk bekerja dalam industri kreatif. Setelah memiliki beberapa pengalaman, hati saya menjadi mantap untuk keluar dari pekerjaan saya sebelumnya dan membawa Menjadi Manusia lebih tinggi lagi. 

Tanpa disadari, kira-kira tiga bulan setelah saya bekerja secara penuh waktu di Menjadi Manusia, sebuah virus yang sangat kita benci masuk ke Indonesia. Virus ini mewajibkan kita untuk mengurung diri di rumah dan melakukan kegiatan secara virtual. Ini juga berarti sebuah tantangan buat saya sendiri. Sebagai manusia biasa, saya juga cuma bisa menerima keberadaan pandemi ini. Namun, saya percaya bahwa manusia itu adalah makhluk yang paling bisa beradaptasi di mana pun dan di segala situasi. Saya yakin bahwa kita semua pasti akan kuat untuk bertahan. Sebagai media yang memproduksi banyak konten, Menjadi Manusia pun terkena imbasnya. Kami juga harus melalui proses adaptasi. Meeting ke meeting dilakukan secara virtual, diskusi konten dilakukan virtual, sampai merekam konten pun kami coba lakukan secara virtual. Dengan segala keterbatasan ini, beberapa masalah juga muncul. Sering kali kami salah komunikasi, semangat dalam bekerja berkurang, sulit membagi waktu bekerja dan istirahat, kesehatan mental juga terganggu, dan lainnya. Ah, saya tidak mau banyak membahas soal pandemi, rasanya basi.

Setelah hampir satu tahun saya bekerja bebas dan melalui masa pandemi ini, ada beberapa pelajaran yang sangat berharga. Pelajaran-pelajaran ini mungkin belum saya sadari ketika masih bekerja untuk sebuah perusahaan. Yang pertama, jika dibandingkan dengan bekerja di sebuah korporasi, bekerja sendiri bukan berarti saya jadi bebas bermalas-malasan. Justru bekerja sendiri itu membutuhkan disiplin diri yang sangat kuat. Saya diharuskan untuk membuat jadwal kegiatan sendiri dan menentukan tujuan saya sendiri. Semua harus didorong oleh semangat dari dalam diri. Terlebih lagi karena pandemi, saya harus bisa mengatur waktu untuk bekerja dan istirahat. 

Selama di rumah, rasanya kasur adalah musuh utama. Ketika melihatnya, rasanya pengin bermalas-malasan saja. Kemudian, kemudahan online meeting membuat satu hari bisa dipenuhi oleh meeting dan meeting. Terkadang tidak ada jeda. Jujur, kalau bisa dibilang, rasanya seperti Nano-Nano. Dibilang enak, ya ada enaknya, tapi di satu sisi juga ada susahnya. Dan ternyata, mendisiplinkan diri juga tidak semudah itu, apalagi dalam hal bekerja. Lagi-lagi, diri sendiri yang harus memecut diri agar bisa sadar akan tujuan yang ingin dicapai supaya bisa membawa apa yang sedang saya buat untuk terbang lebih jauh lagi. Jika ada yang tidak berhasil, tidak ada yang memarahi saya kecuali diri saya sendiri.

Yang kedua, saya belajar bagaimana untuk memimpin sebuah tim. Pada pekerjaan sebelumnya, saya hanya memimpin tim kecil yang berisi empat orang. Tapi di Menjadi Manusia, total timnya sekarang sudah hampir dua puluh orang, termasuk pegawai magang. Memimpin dan menjadi bos adalah hal yang berbeda. Banyak orang yang menjadi bos, tetapi mereka belum tentu bisa memimpin. Untuk bisa memimpin, dibutuhkan skill tersendiri untuk bisa memahami tiap karakter dari masing-masing pekerja. Memang, di Menjadi Manusia, perbedaan usia antartim tidaklah jauh, tapi tetap saja challenging! Saya pun sampai saat ini masih bertanya-tanya, apakah saya sudah bisa memimpin mereka dengan baik? Saya pun banyak belajar dan membaca buku terkait hal ini. Saya belum menemukan formula pastinya, saya pun juga belum yakin dengan kemampuan saya saat ini. 

Yang ketiga mungkin lebih berfokus pada rasa syukur dibandingkan pelajaran. Saya sangat bersyukur bahwa pada tahun ini, saya masih ada di tahap yang beruntung. Walaupun memang pandemi ini berdampak pada apa yang sedang dikerjakan, saya dan teman-teman lainnya bisa menghadapi ini semua. Saya juga bersyukur bahwa saya diberikan kesempatan untuk membangun dan menjalani apa yang sedari dulu saya impikan, yaitu membuat sebuah lapangan kerja. Rasanya saya mendapatkan pelajaran yang lebih banyak ketika saya mendalami apa yang saya ingin lakukan. Kalau disimpulkan, 2020 ini juga merupakan sebuah blessing in disguise. Tahun ini berjalan begitu cepat, tapi ada banyak pelajaran yang didapat. Mungkin tahun ini menjadi proses pendewasaan kita sebagai manusia. Mungkin pada tahun depan, akan ada tantangan yang lebih banyak, yang harus dilalui. Oleh sebab itulah, pada tahun ini, kita diharuskan untuk menjadi orang yang lebih kuat. 

Terima kasih 2020, semoga tahun depan akan menjadi tahun yang penuh arti.

***

Silakan baca esai-esai lainnya dari tim Arena Bermain dengan mengunduh zine edisi spesial dari kami, 2020: Mencari & Menemukan!

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top