folder Filed in Yang Lain
Ruang Bahagia
Meskipun kadang keberadaan ruang malah membatasi kepak sayap kita, setiap insan tetap butuh untuk bahagia.
Leres Anbara comment 2 Comments access_time 1 min read

Jangan berdusta pada semesta. Sejatinya mereka sudah tau segala rencana yang kita susun, hanya saja mereka memilih untuk diam. Memperlakukan kita dengan halus, mengalir seiring waktu berjalan.

Jangan berdusta untuk sebuah kata bahagia. Terlalu banyak orang menafsirkan sebuah kebahagiaan dari perspektif lingkungannya, bukan nurani yang mereka miliki. Sejenak jika dipikir-pikir, kita seakan hidup untuk mencari kekaguman atas status sedang bahagia, bukan mengapresiasi hidup untuk selalu bahagia.

Begitu banyak yang berusaha bahagia demi sekadar dianggap bahagia. Mereka rela membayar mahal setiap sandang, pangan, dan papan untuk selalu terlihat paling bahagia. Lalu setelah mendapat banyak pengakuan, mereka akan berpikir lebih keras untuk mendapatkan segala aspek lain yang bisa dipamerkan ke massa.

Banyak juga yang berlomba-lomba menjadi penguasa, menjadi raja dari lingkup kecil mereka. Mereka ingin mengendalikan hidup orang lain, mengatur tinggi-rendahnya harga diri orang-orang di bawah mereka, bahkan parahnya, ingin membeli waktu. Padahal,  pendewasaan manusia bagaikan sebuah proses, selalu berlanjut. Semakin tua, semakin matang. Seharusnya mereka semakin tau mana yang baik dan buruk,  pun sejatinya kian bijaksana untuk memahami celah-celahnya.  Manusia memang selalu tidak puas, bahkan saya, namun setidaknya cobalah untuk selalu belajar bahagia tanpa memperburuk pola pikir dan merugikan orang lain.

Seperti ini, tidak ada undang-undang untuk setiap kebahagiaan. Tidak ada minimal dalam segala kesedihan. Jika massa dapat menentukan seberapa pantas seseorang dianggap sempurna, lantas apakah kalian rela jika sepatah kata bahagia memiliki intensitas yang diiringi batas?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment