Ramadan yang Tak Lagi Sama

Tidak terasa satu tahun sudah terlewati, dan esok kita akan bertemu dengan bulan yang suci. Bulan yang penuh pengampunan, bulan yang penuh kerahmatan, dan bulan yang penuh kehangatan. Bahagia rasanya bisa kembali merasakan kehangatan berkumpul dengan keluarga. Tapi tahun ini rasanya begitu berbeda. Di saat aku yang berada di perantauan harus melewati bulan ini dengan berjauhan dari mereka, karena wabah yang sedang terjadi di seluruh dunia. Rasanya akan begitu sepi, rasanya pasti hampa.

Semua kebiasaan yang biasa aku lakukan bersama keluarga tak akan bisa aku rasakan, aku harus mengalah demi kesehatan mereka. Sahur dan buka puasa bersama, tarawih di masjid kampung yang selalu ramai hanya di hari pertama, rasanya pasti akan berbeda. Terpisah jarak dan keadaan yang tak bisa aku ubah, rasanya begitu menyebalkan. Ayah Ibu, aku rindu, sangat. Ramadan kali ini aku akan sendiri di kota yang sudah dilabeli zona merah, aku tak bisa pulang demi menjaga kalian.

Tapi tak apa, aku harap ramadan kali ini kita bisa bertumbuh menjadi lebih sabar dari sebelumnya, lebih ikhlas dari biasanya, dan lebih mensyukuri segala hal yang sudah menjadi ketetapan-Nya. Ayah Ibu, aku harap bisa segera bertemu kalian, bersimpuh dan memohon maaf atas semua kesalahan.

Tuhan, aku harap semua ketakutan dan ketidakpastian ini segera berlalu. Semoga di bulan penuh rahmat ini segala duka segera pergi dan tak akan kembali lagi. Penduduk bumi sudah begitu lelah. Tuhan aku mohon pada-Mu, ampuni segala dosa mereka yang sudah pergi dan lindungi kami yang masih berjuang untuk bisa hidup di dunia ini. Di bulan yang suci ini, ada banyak doa baik yang akan kami panjatkan pada-Mu.

Tuhan maafkan kami. Maaf karena kami sering begitu sombong untuk tak berdoa dan bersimpuh kepada-Mu. Tolong tetap peluk kami, lindungi kami dan ampuni kami..

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top