Cerita Ramadan Anak Rantau

Sore itu, di hari pertama Ramadan sekitar pukul 17.00 WIB, handphone-ku berdering, video call dari rumah. Terlihat wajah ceria Ayah, Ibu dan Adik-adikku yang sedang mempersiapkan hidangan untuk berbuka puasa. Pertanyaan itu muncul dari Ibu, “Kamu tidak pulang Nak?” Aku hanya bisa tersenyum kecut karena tak tahu apakah masih bisa pulang ke rumah atau tidak. “Aku belum tahu Bu, semua akses menuju rumah ditutup, bahkan kendaraan umum menuju ke sana pun tak ada. Aku harus bagaimana?” Jawabku balik bertanya sambil menahan rasa sedih yang sudah membuncah di dada, ingin rasanya menangis saat itu juga. Sudah hampir satu bulan aku tak pulang demi kesehatan kalian, tapi rindu ini semakin kurang ajar. Entah sampai kapan aku mampu menahannya. Apakah Idulfitri pun harus aku lewati tanpa kalian juga? Hancur hatiku saat harus membayangkannya.

Ramadan tahun ini memang terasa lebih berat, bumi kita sedang tidak baik-baik saja. Bertemu banyak manusia menjadi sesuatu yang begitu menakutkan pun menjaga jarak menjadi satu hal yang wajib dilakukan. Bepergian jadi seperti sesuatu yang haram, jika tak ada kepentingan yang krusial. Aku lelah dengan semua ini, aku ingin keadaan ini bisa kembali normal, bertemu keluarga, bertemu teman, dan saudara, tanpa perlu takut akan tertular virus yang tak kasat mata. Tuhan, pulihkan keadaan kami, sembuhkan negeri ini.

Kini di setiap sujudku, aku memohon kepadamu untuk kesehatan semua penduduk bumi, dan juga ketenangan bagi mereka yang sudah pergi. Mungkin bumi sedang membersihkan diri, karena terlalu sesak dan penuh dengan polusi. Terlalu ramai dengan hiruk-pikuk urusan dunia, hingga sering lupa pada pencipta-Nya. Ramadan ini menjadi titik balik bagiku dan kita semua, untuk lebih berserah dan kembali mendekat pada-Nya, pemilik alam semesta. Karena tanpa rahmat dan kasih sayang-Nya, kita bukanlah apa-apa dan tak berdaya.

Tuhan jadikan Ramadan ini titik balik bagiku, menjadi lebih sabar dan ikhlas dalam menghadapi ujian, menjadi lebih bijaksana menghadapi situasi yang tak sesuai rencana. Semoga aku masih bisa bertemu dengan Ramadan selanjutnya. Lindungi aku dan keluargaku, juga semua umat manusia di belahan dunia lainnya. Karena sesuai dengan firman-Mu: “Maka yang terjadi, terjadilah.”

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top