Belajar dari Lukaku Sendiri

Setiap jiwa pasti punya luka, entah yang sudah bertahan lama atau yang sudah terlupa. Setiap manusia punya cara sendiri menyembuhkannya, berdamai dengan diri sendiri atau pergi dari segala hal yang menyakiti.

Aku pernah terluka sangat dalam, dibuat jatuh dan kehilangan arah, memungut kembali satu per satu kepercayaan yang sudah aku bangun dengan susah payah.

Dia berhasil membuatku tak percaya bahwa aku layak dicintai dengan segala hal yang aku punya, dia berhasil membuatku bertanya apakah aku berhak bahagia?

Begitu hebat luka yang dia berikan hingga sampai detik aku menuliskan ini aku masih merasakan sakitnya. Aku tak menyangka bahwa mencintai seseorang sama saja dengan memberikan pisau padanya untuk bisa menikammu kapan saja.

Waktu demi waktu aku mencoba menyembuhkan diriku, berdamai dengan masa lalu yang mengingatnya saja sudah berhasil membuat mataku kembali sendu.

Ya, memang sesakit itu.

Trauma yang tercipta menjadikanku wanita yang dingin dalam waktu yang lama. Tak peduli siapa yang datang untuk mengetuk pintu hati, aku bergeming sama sekali.

Bagiku jatuh cinta adalah hal yang begitu mahal harganya, karena ketika aku sudah menyerahkan hatiku, aku pun harus kembali siap terluka.

Bertahun-tahun sampai akhirnya aku mulai berhasil sembuh dan memaafkan.

Segala luka yang tertinggal akhirnya membuatku sadar bahwa sehebat apa pun rasa sayang yang kita berikan pada raga lain, jika dia memang tidak berniat menetap, dia akan pergi bahkan tanpa merasa bersalah sama sekali.

Begitu juga cinta yang aku berikan pada orang lain tidak boleh melebihi cinta pada diriku sendiri.

Karena ketika hancur, yang tersisa hanyalah aku. Yang hancur adalah diriku.

Dia tidak akan pernah bertanggung jawab untuk semua lukaku, air mataku, kecewaku.

Beberapa luka akhirnya membuatku semakin dewasa dalam menyikapi kecewa.

Yang pergi memang sudah waktunya pergi, walaupun tetap dipaksa untuk tinggal, lambat laun rasa itu pun akan usang.

Dan setiap luka yang hadir akan memberikan makna kelak di masa depan, bukan sekarang. Kamu akan mengetahuinya saat kembali melihat ke belakang.

Iya, kamu sudah berhasil melewatinya, kamu sudah berhasil untuk tak menyerah dan tetap ada. Karena berjuang untuk tetap waras di saat luka datang bertubi-tubi adalah hal yang tak sederhana.

Kini aku mulai mengerti semua lukaku adalah pembelajaran hidup paling berharga yang menempaku menjadi wanita kuat pada akhirnya.

Terima kasih luka, karenamu sekarang aku menemukan bahagia.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top