Lacuna

Bolehkah aku membisikkan sebuah permintaan kecil pada dunia? Bolehkahku pinta pahitnya diberikan sedikit gula? Aku lelah berkelana tanpa arah. Aku lelah terperosok lubang yang sama. Sungguh lelah kembali bangkit dan kembali jatuh dengan cara yang sama.

“Bisakah aku bahagia tanpa dirimu?” Bisikku pelan. Dia tak kunjung menjawab, bolehkah kali ini ‘ku berteriak? Ah suaraku parau, dia tak mungkin mendengar teriakanku. 

Aku memilih diam, menilik segala hal yang aku lewati 24 jam ke belakang. Ingatanku seolah membeku dan membatu. Tak satu pun yang bisa membantu mengingat tiap detil kejadian yang berlalu. Hiruk pikuk serta lalu lalang orang-orang berbaju hitam sama sekali tak kuhiraukan, untuk apa mereka datang dan memasang wajah sedih? Untuk apa orang-orang itu menatap iba terhadapku?

“Akan ada ruang hampa dalam hatimu, ruang kedap udara yang kau pun tak dapat menjangkaunya. Namun percayalah, kau masih bisa bahagia, meski tanpanya.”

Suara itu bagai gaung tak bertuan tertangkap inderaku. “Mengapa harus ada ruang hampa? Aku telah mengisi semua dengan bahagia.”

“Rasa duka selalu sama. Akan meninggalkan luka yang menganga. Tapi bukan berarti kau boleh terus merana,” aku menatap lurus manik matanya.

“Sebenarnya apa yang ingin kau sampaikan Lana?”

Tatapan kami terkunci sebelum akhirnya jemari lentiknya menunjuk satu titik yang langsung menjadi fokus penglihatanku, “Dia di sana. Jiwanya telah meninggalkan raga”

Hanya dengan kalimat singkat itu aku kembali pada kesadaranku, kembali pada ingatan sebelumnya saat aku membisikkan sebuah pertanyaan padanya. Kini aku ingat, dia memilih pergi mendahuluiku. Namun untuk apa? Dia yang pertama kali mengajakku masuk ke dalam lubang kegelapan, dia yang mengajarkan dunia gelap bukanlah sebuah kesalahan, tapi sebuah pilihan.

Apa kini kematian juga menjadi pilihan untuknya setelah muak dengan dunia fana?

“Bagaimana kalian berdua bisa kembali menjadi pemakai? Bukankah kalian berdua sudah selesai menjalani rehabilitasi?” Pertanyaan ini telah lama aku tujukan untuk diriku, namun sampai saat ini tak satu kata pun bisa kujadikan jawaban.

Mataku mengerjap gelisah, aku tak tahu harus berkata apa, tentang siapa diriku pun, aku tak sanggup menjawabnya. Aku merasakan sebuah sapuan hangat di pipiku. Aku tersentak merasakan sensasi basah di area pipiku.

“Jangan menangis, semua akan baik-baik saja. Kami semua masih menyayangimu?”

Aku tertawa getir, bulir-bulir kristal kembali menganak sungai di pipiku. Kali ini kubiarkan saja, tak guna menutupi. Kami menyayangimu katanya? Hanya dia dan Lana yang benar-benar tulus ucapkan itu padaku. Kali ini siapa yang dimaksud kami oleh Lana? Sedangkan dia telah terbujur kaku di hadapanku.

“Bolehkah aku menyusulnya? Kali ini duniaku benar-benar telah gelap. Apa yang bisa aku cari lagi setelah dia pergi?”

“Dan apa yang membuatnya pergi? Apa kau ingin menyebutnya takdir? Tak bisakah kau melihat dia pergi akibat kebodohannya sendiri? Dan kali ini kau pun ingin ikut melakukan kebodohan sepertinya?” 

“Apa yang salah dari semua itu? Dia duniaku, dia poros hidupku. Menurutmu, bagaimana manusia bisa hidup bila dunia ini telah lenyap? Bagaimana Bumi bisa berputar bila porosnya menghilang?”

Kami tau perdebatan kami tidak pada waktunya, namun aku pun tahu, bila percakapan ini ditunda, aku akan benar-benar bersanding dengannya di sana. Lana menyeretku untuk menepi, aku yang sudah tak memiliki energi memilih untuk mengalah dan mengikuti kemauannya.

“Kenapa kau harus sebodoh ini? Kau bisa melihatku, aku masih tetap hidup, aku berdiri dengan kakiku sendiri saat ini!” Aku tak bergeming, aku tau, sangat tau. Kisah kami sama, bahkan manisnya persahabatan kami diawali dengan pahitnya kehidupan dua anak yang dibuang oleh keluarganya. “Kau tau mengapa manusia disebut makhluk sempurna? Karena kita memiliki otak? Kau tahu fungsi otak itu apa? Otak itu harus kau gunakan untuk berpikir.” Terangnya dengan semangat menggebu.

Berbanding terbalik denganku yang sudah kehilangan semua gairah, “Aku tak mengerti, dan biarlah aku tetap tak bisa mengerti semua kalimatmu.”

“Akan ada saat yang tepat untukmu menyerah, namun itu bukan saat ini. Kuburlah lubang hitam yang selama ini kau tinggali, jejakkan kakimu ke jalanan yang lebih terang. Luka lama akan mengering seiring jalan. Bisakah sekali lagi aku berharap kau bisa bangkit?”

Diriku membatu, bukan ingin jadi bisu, hanya lidahku terlalu kelu. Sekarang apa lagi? Kesalahan yang lalu memang besar, mengubur luka hati dengan membuat lubang hitamku. Aku tak pernah meminta, bahkan diriku tak meminta takdir kejam dialamatkan padaku, aku tak meminta terlahir dari rahim wanita yang gemar menjajakan tubuhnya, aku tak meminta terlahir dari benih pria yang seumur hidupnya di bawah pengaruh obat. Tidak, sekalipun aku tak pernah meminta, aku pun tak pernah diizinkan untuk memilih takdirku sendiri. Jadi mengapa aku harus dipersalahkan saat mengikuti jejak ayahku?

Jejak kelam masa lalu yang pernah berusaha kutinggalkan, kini malah membuatku ditinggal oleh dia. Dia memang bersalah, dia yang kembali menjeratku bahkan membawaku pada palung terdalam. Namun aku tak bisa begitu saja berkata dia jahat. Tak sekalipun dia khianatiku, tak sekalipun dia berpaling dariku, tak sekalipun dia berusaha membuangku. Matanya menatapku teduh, lisannya membasuh semua perih yang pernah ku tempuh.

Bukan sekadar berdebar yang kurasa, namun perasaan diterima olehnya. Satu-satunya orang selain Lana yang menatap mataku dengan tulus, tak ada penghinaan, tak ada makian, hanya sebuah tatapan tulus dari seorang manusia. Aku menutup mata akan salahnya? Mengapa? Karena hanya dia yang memanusiakan diriku di saat orang lain membuangku seperti binatang.

“Isi dunia ini belum berubah, mereka akan tetap mencaci yang mereka benci. Mereka akan tetap mengumpat pada mereka yang di anggap jahat, pun mereka tak akan repot-repot mencari tahu seberapa banyak kebaikan yang telah kau perbuat. Apa itu adil?” aku kembali memecah keheningan di antara kami.

“Tidak. Karena dunia memang tak pernah adil.” Sorot mata itu kembali mengingatkanku bagaimana dahulu kamu berniat untuk sama-sama membebaskan diri. “Kau tak memiliki kewajiban untuk membuat seluruh dunia menjadi adil. Kau hanya perlu bertanggung jawab atas dirimu sendiri, tubuhmu dan juga jiwamu, jangan lupakan pikiranmu.”

“Aku tak yakin, aku hanya merasa kosong. Seperti yang kau katakan, ada ruang hampa yang mengendap dalam sudut hatiku. Aku ingin menemukan dan membuangnya. Namun tak kutemukan di mana keberadaannya.”

“Hanya perlu niatan darimu, tak perlu berjalan sendiri, aku akan menemani, bukan hanya kini, namun hingga nanti. Saudari tak akan pernah terganti.” Tangisku seketika pecah, aku menghambur untuk memeluknya, saudari tanpa ikatan darah, saudari yang kutemui di masa pembuangan, dialah sumber kekuatanku selama bertahun-tahun. 

Sekali lagi aku memandang raganya, raga tanpa jiwa yang menemaniku melawan kejamnya dunia, raga yang tak bisa lagi kuraba. Hanya bisa kututup dengan doa. Semoga dia tenang, dan semoga hidupku bisa kulanjutkan, meski tanpanya.

Kumematut diri di depan sebuah cermin, ingin ‘ku bertanya apa ini takdir? Atau hanya sebuah tabir? Apa aku bisa kembali lahir? Batinku bagai sebuah cermin hancur, serpihannya buat darahku mengucur, namun bisakah aku berharap agar tak kembali hancur? Kosong yang kurasa akankah sirna? Ingin kunikmati semuanya, letih bertanya, entah pada siapa. Perginya sisakan luka, menganga di dalam sana, hadirnya berikan makna, bisakah aku melupakannya?

“Dia datang untuk memberimu kehidupan, meski perginya menoreh luka dalam, ingatlah dirinya pernah memberimu sejuta makna kehidupan. Tak usah kau lupakan dia, cukup terima dia telah tiada, terima raganya tak lagi bersama kita, terima bahwa sejatinya kau bahkan tetap hidup walau tanpa dia.”

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top