folder Filed in Prosa, Senadi
Ulu
Sampai kapan sebuah ruangan kosong yang seharusnya berkelut damai menjadi sebuah kumpulan kebisingan dan ingatan-ingatan pekak yang menumpulkan telinga, hati, dan ubun-ubun kepala?
Leia Pena comment 0 Comments access_time 2 min read

Berkas berkas mu, ku, ka, ia, ada…

Cahaya-
bercahaya membekas, tertoreh di lubuk malam yang ter-kelam, walau ditemani sinar bulan,
yang terpendam awan, lalu padam.


Seperti melihat ke belakang, berbaris-baris orang-orang yang berada di dalam sebuah
ruangan sunyi-
berbunyi- hanya menggema di dalam suatu kosong yang terisi oleh basahnya air-
aliran-aliran syaraf yang menggeluti sebuah rongga… rongga merah merona yang tak jarang bersuhu tinggi, walau dari luarnya terlihat sangat ter-redam dan sunyi.
lalu,
berbaris-baris orang-orang bernyanyi-
dan suara mereka yang ada pun kadang terdengar pekak di telinga,
tentu saja-
(lagi-lagi)

Hanya dalam sebuah gendang telinga yang kosong, dimana ujung ruang siputnya tertuju
buntu-

Tidak ada arah keluar
semua hanya masuk melalu-lalang berebut jalan, dan akhirnya semua kembali ke rongga
kosong– ruangan sunyi yang berpendar merah
basah
hujan-hujanan di dalam sana melihat terpana hanya melalui sudut pupil mata
lalu salurannya mogok- dan alirannya pun teronggok di pojokan sana
tolong pun tak terdengar
suara lolongan kelu yang hanya terlihat merdu

Sampai kapan?

Sampai kapan sebuah ruangan kosong yang seharusnya berkelut damai menjadi sebuah
kumpulan kebisingan dan ingatan-ingatan pekak yang menumpulkan telinga, hati, dan
ubun-ubun kepala?

Lalu berjalan-jalan lah Ulu
pergi berkelana di dalam sebuah putaran mesin waktu
beberapa bulan terlalu- yang terdengar kelu
dan tetesan air-air hujan yang terlihat dari sebuah malu, atau sendu, dan tak lupa paku-
paku candu–
yang tidak bosan menusuki peti-peti dimana semua terasa mati.

Ke kanan, lalu ke kiri, dan berbelok-belok berliku-liku
sudut perumahan yang membuat orang tersesat,
dan pedihnya sesat itu tidak hanya dipengaruhi oleh hal-hal yang binasa dan keji,
melainkan oleh hal-hal penuh harapan dan hangat,
saking menggiurkannya damai dahulu itu, sampai membuat Ulu berlalu, terkelabu oleh
simpangan-simpangan menyesatkan yang menjauhkannya dari jalan pulang ke hari esok.

Lalu datanglah cahaya-cahaya kuning ini,
lampion-lampion penunjuk jalan yang berterbangan di sebuah malam kelam dan panas

Lalu sesosok pun mengajaknya untuk pergi

Lalu disuruhnya Ulu untuk menanggalkan semua materi yang digantungkan di kaki, leher, hati, dan ubun-ubun kepalanya, dan untuk sesaat itu,
katanya-

Lupakanlah bulan, ataupun bintang penunjuk jalan, karena isak dan tetesan air hujan pun tak berani untuk menghalanginya

Lalu mereka semua pun memberi jalan- walau hanya sesaat- agar para penghuni dan Ulu bisa melihat dari pori-pori jendela ruangan-ruangan kosong itu
sebuah keindahan malam bersifat sesaat yang mencerminkan banyaknya harapan-harapan terpendam ruangan-ruangan lain yang dengan sendirinya mengajak berteman walau tidak bercengkrama

Sebuah relasi yang menyatakan bahwa diluar sana sebanyak ratusan pun ada, mereka, berada pada ruang yang terlampir serupa, dan berjalan beriringanlah sudah seharusnya kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment