Perempuan Cahaya

Konon, fajar senja saat matahari terbit dan matahari terbenam dibentuk dari segaris senyum seorang perempuan yang malang.

Perempuan ini, bukan bagian kebanyakan dari kaumnya. Ia memiliki karisma dan daya nuansa dari senyumnya itu, yang mampu membuat seluruh lapisan manusia, menerima. Ia dikagumi, dipuja, dan dicintai. Tiap orang di kota yang sedang ia kunjungi–pada pagi dan sore–berderet panjang ingin menyaksikan rona senyum perempuan itu di beranda rumah dan balkon-balkon. Anehnya, tidak ada tepuk tangan atau teriakan yang meriah. Tiap orang yang melihat senyum perempuan itu tidak ingin diganggu ketakjubannya dengan suara-suara berisik yang memekakkan telinga. Mereka cukup terpejam dan menghirup napas dalam-dalam. Mereka menikmati keindahan dengan serius.

Namun hal tersebut tak cukup bagi perempuan itu. Ia ingin dikagumi, dipuja, maupun dicintai, dengan teriakan dan tepuk tangan yang meriah. Sayangnya, tiap manusia pada tiap kota–meski telah jatuh cinta dan kagum dengan senyum itu–tak mau melakukan keduanya. Mereka tidak mau keindahan semacam itu tak sempurna akibat kebisingan yang tidak perlu.

Ia tak mendapatkan ekspektasi yang berputar-putar di kepalanya. Ia selalu bertanya heran, “Kalau memang keelokanku berkarisma dan senyumanku bernuansa, kenapa tiap orang yang melihatku justru memejamkan mata lama-lama dan menghirup napas dalam-dalam? Apakah aku tak cukup untuk diteriaki dan diberi tepuk tangan?”. Pertanyaan tersebut kemudian semakin lama kian menjamur di hatinya, membuatnya frustasi dan tak terkendali. Lantas ia mengakhiri hidupnya di tangannya sendiri, dengan sebilah belati yang kedua matanya bersimbah darah. Ia bunuh diri.

Ketika tahu, tiap kota dan manusia yang berada di dalamnya berhamburan keluar rumah dan menjeritkan tangisnya masing-masing. Mereka kehilangan sesuatu yang dulu dapat dinikmati di waktu pagi dan sore.

Atas kebaikan Tuhan, senyum milik perempuan malang itu diangkat ke langit dan pecah menjadi dua di ufuk yang berbeda, timur dan barat. Masing-masing munculnya secara bergantian. Ketika pagi, mereka akan menemukan senyum perempuan itu di ufuk timur. Ketika hari menjelang sore, mereka dapat menemukan pecahan senyumnya lagi di ufuk bagian barat. Begitulah awal mula fajar senja dengan warna kemerah-merahannya yang semakin pekat menjelang matahari terbit dan kian memudar di sore hari, saat matahari mulai terbenam.

Perempuan cahaya yang malang, yang tak dapat memahami bagaimana ketakjuban bekerja. Ia pikir hanya tepuk tangan dan sorakan meriah yang menjadi perayaan ketakjuban, padahal bukan. Ia mempunyai banyak kelebihan, namun ia tak memahami satu kekurangannya: bahwa tidak semua orang bertepuk tangan dan bersorak meriah untuk merayakan ketakjuban.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top