Aroma Pagi

Sebelum Tiada

Pagi ini, sinar keemasan mengintip malu dari balik jendela kamar yang sudah hampir satu pekan bagai lemari piring berserakan. Sana-sini buku-buku, kertas putih yang harus kurobek berkali-kali karena kesalahan kecil pada tulisannya, begitulah aku, terlalu menuntut kesempurnaan, dan, aku lelah. 

Pukul 7 pagi, alarm dari jam bulat itu berbunyi, sangat nyaring. Aku bahkan tersentak hendak kembali lagi ke meja belajar dengan tumpukan buku yang sama. Ah, aku benci setiap pagi, benci harus menyadari bahwa duniaku masih sama gelap dan sendirian, kenapa malam tidak saja lebih panjang dari pagi, agar aku bisa sedikit lupa tentang tugas-tugas yang meminta diselesaikan juga ingatan yang belum mampu di ikhlaskan. 

Jika orang-orang memulai pagi dengan kembali bahagia, dengan berbagai macam harapan baru, dan rencana-rencana pertemuan yang menghibur sepi, berbeda denganku. Aku terlalu sibuk dengan urusan yang tak pernah selesai dengan diriku sendiri. Apa salah jika setiap hal harus kutuntut sempurna? Apa salah, jika aku marah pada diri sendiri saat apa yang kukerjakan tidak mendapat nilai tepukan tangan dari dosen-dosen mata kuliah? 

Di luar sana mereka kerap kali mengirimkan pujian atas apa yang aku kejar dan mendapatkannya, pun tak sedikit yang terang-terangan meluncurkan tatapan tak suka. Aku sama sekali tidak memusingkan keduanya, yang aku pikirkan apakah sudah aku menjadi diriku sendiri? atau hanya sekadar ambisi mencari apa yang ingin kuperlihatkan pada dunia?

Aku kadang iri dengan mereka yang mempunyai jadwal berkumpul dengan sahabat-sahabat, atau merencanakan liburan menyenangkan dengan keluarga sedangkan aku masih tetap sibuk, sendiri, di kamar yang membutuhkan kasih sayang. 

Aku lupa kapan terakhir tertawa dengan sebetul-betulnya bahagia, aku sudah tidak bisa menghitung lagi berapa banyak kepura-puraan yang mereka kira setiap hariku adalah kebahagiaan. Bahkan ada yang datang menghampiriku dan mengatakan ia ingin jadi sepertiku, kukatakan jangan, jadilah dirimu sendiri. Lalu bagaimana denganku? Sudahkan menjadi diri sendiri? Nyatanya belum dan, tidak pernah tahu kapan.

Setiap sebulan sekali ibu akan menelepon, menanyakan kabar juga kuliahku. Dan, aku akan mengatakan semua baik-baik saja lalu dengan suara pelan, tapi tidak dengan diriku.

Aku tidak tahu harus menceritakan tentang ibu dari bagian mana, sebab darinyalah aku kerap kali belajar kepura-puraan itu, pura-pura bahagia, mengatakan tidak terjadi apa-apa padahal ia sedang punya banyak masalah, tersenyum seakan semua baik-baik saja namun begitu dasar luka di hatinya, apalagi saat ibu memutuskan membesarkanku sendirian ketika tahu ia bukan satu-satunya perempuan di hidup lelaki yang kupanggil ayah. Awalnya aku menolak tidak bisa membayangkan bagaimana hidup tanpa ayah di sampingku, apalagi saat itu aku masih kelas 4 sekolah dasar, terlalu dini menerima hidup yang ternyata begitu kejam.

Namun ibu selalu berkata, Kitalah yang memilih jalan kehidupan, dan ini yang terbaik, meski selalu di ujung suaranya dapat kurasakan getar dan mengecil sembari cepat ia memalingkan wajah menghapus titik hujan yang sudah mendung sejak lama. Dan aku hanya bisa berdiri bisu di sampingnya tidak tahu harus melakukan apa. Tapi, ibu selalu kuat, ia terus bangkit dan berjalan menelusuri kehidupan yang masih ia miliki, yaitu aku, setidaknya.

Di sini aku sekarang, sendirian dan jauh dari ibu, mengadu nasibku di negeri orang. Mungkin karena doa ibu dan kasih sayang semesta aku masih bertahan. 

Hari itu aku terkejut, tidak biasa bel apartemen kamarku berbunyi, aku yang sedang berantakannya berdiri malas membuka pintu. Wanita berwujud malaikat itu berdiri tepat di depanku. Tanpa aba-aba aku menghambur segalah tumpah dalam pelukannya rasanya sudah sangat lama tidak mendekap jiwa yang menjadi satu-satunya alasan aku ada, pelukan itu terlalu hangat ada rindu yang tersemat sangat lama. Namun, ada yang berbeda dari ibu hari itu, ia berhijab, untuk pertama kalinya ia sangat cantik dengan senyum yang paling bersahaja, tatapan penuh kerinduan, bukan lagi kepura-puraan yang kutemui tapi ketulusan.

Ibu melangkah masuk dan melihat betapa berantakannya ruangan putih itu, tapi ibu sama sekali tidak marah, berbeda dengan dulu yang selalu memarahiku jika ia dapati salah satu ruangan dalam rumah berantakan, kali ini ia malah malah menatapku penuh penyesalan lalu memeluk tubuh ringkih yang ia tahu telah menahan berbagai macam keluhan. Selama ini waktu sudah lama mengambil kebahagiaan kami. Sekarang, senyum itu kembali.

Aku merasa seperti hidup lagi menjadi diriku sendiri setelah beberapa hari ibu menemaniku di sini. Tertawa dengan apa adanya saat mendengar cerita ibu tentang perjalanan singkatnya mengenal hidayah, ibu tidak lagi mudah lagi tapi ia tetap cantik di mataku.

Pagi hari aku mencium aroma berbeda dari biasanya, aroma pagi yang lebih sejuk, aroma yang lebih baik. Aku tersenyum menyambut pagi untuk pertama kali lagi setelah bertahun-tahun aku membenci pagi, namun kali ini ada tarikan alam yang menuntunku mengucap syukur lebih dulu sebab aku sadar, masih ada ibu yang satu-satunya kumiliki. Sekarang kamar kumuh sudah berubah menjadi salah satu ruangan yang pernah menjelma diriku yang dulu, lebih nyaman dari biasanya dengan bunga mawar di fas putih itu sebagai simbol kebahagiaan. 

Ibu datang membawa secangkir teh manis yang masih mengasap dengan lembut. seduhan pertama yang terasa begitu nikmat, juga makanan yang terang-terangan memperdengarkan suara perutku. Aku rindu masakan ibu.

Makan bersama ibu rasanya mimpi yang kembali nyata, lalu sesekali tertawa menceritakan betapa buruknya hari-hariku sebelum hari ini, dan ibu tetap bangga dan mengatakan, “Kamu permata yang ibu punya,” aku tersenyum dan menggenang. 

Tuhan terima kasih Engkau masih memberikanku kebahagian paling berharga.

Teh pagi buatan ibu habis setelah ia menyebutkan satu permintaan, ia ingin aku juga berhijab. Entah mengapa kepalaku terangguk dengan ringan dan katanya kami sudah lama tidak beribadah bersama, lalu aku teringat berapa banyak waktu yang terlewat tanpa aku berusaha dekat dengan Sang Pencipta padahal Dia-lah yang masih memberiku napas menjalani hidup ini.

Kuputuskan memulai hari baru yang lebih baik, belajar berusaha semampuku tetapi tidak perlu kecewa jika tak sesempurna seperti apa yang ingin kutunjukkan, asal aku bahagia dan merasa hidup sebagai manusia yang juga bisa melakukan kesalahan, sebab dari setiap kesalahan aku akan mampu melihat makna hidup yang lebih dari apa yang kukira, dan luka masa lalu biarkanlah ia tetap di sana dalam lemari keikhlasan sebab luka itu mengajarkanku, di dunia ini tidak ada yang sempurna meski cinta yang awalnya begitu membara.

Sayang, kita hanya butuh menjadi sebaik-baik manusia sebelum hari ini dan esok akan tiada.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top