Gadis dan Rasa

Rasa itu datang hari ini. Dan sang Gadis telah duduk di sana, menjamu yang datang sebaik mungkin. Berusaha meyakinkan dirinya, “Tidak apa, ini sama seperti sebelumnya.  Tapi genggaman tangannya berkata lain, kedua buku jarinya memutih, aliran darah melambat terhalang erat kepalan yang dilakukan untuk mendistraksi Rasa.

Rasa itu tersenyum ganjil, Ini menakutkan,pikir sang Gadis. Oh tidak ada perbedaannya bila sang Gadis berpikir dalam hati ataupun diucapkannya secara lantang, Rasa akan tetap tahu. Dan pertemuan ke berapa ini? Entah, sang Gadis kehilangan rekam jejak tentang berapa kali Rasa telah bertandang. Gadis dan Rasa. Rasa itu datang tidak dengan bentuk yang selalu sama. Ada hari-hari ketika kedatangan Rasa dinantikan, disambut dengan senyuman dan rengkuhan hangat layaknya kekasih yang berhasil kembali dari medan perang. Tapi tidak jarang pula ditolak terang-terangan, disuruh pergi, dan tidak diterima oleh sang Gadis.

Di satu pertemuan mereka, Rasa itu menciut berbentuk anak kecil ringkih kehilangan arah, membangkitkan naluri keibuan sang Gadis untuk merawatnya, Tinggallah, aku bisa merawatmu.Tapi Rasa tidak mau tinggal.

Di satu pertemuan lain dia datang dengan wujud seorang pria tinggi, pintar, bermoral baik dan rupawan, sang Gadis berusaha menahannya untuk tidak pulang, Bisakah kamu tetap tinggal? Tapi Rasa tetap pergi.

Di pertemuan berikutnya Rasa itu kembali dengan wujud teman lama, wajah-wajah lama yang mungkin hampir dilupakan siapa nama mereka, berganti satu demi satu, tersenyum aneh dengan tujuan abstrak yang tidak bisa dipahami, Mau apa? Gadis bertanya penuh selidik, si Rasa tidak menjawab.

Lain lagi ketika Rasa datang sebagai sosok orang-orang yang dicintainya, sang Gadis berusaha keras menjamu dengan sikap terbaik dan senyuman paling bahagia miliknya, Kumohon tetap tinggal.  Tapi alih-alih tinggal, Rasa menatapnya dengan kecewa.

Atau ketika kedatangan Rasa sebagai sesosok monster mengerikan, diliputi perasaan sepi, rendah diri, asumsi salah, buruk sangka, iri dan sakit hati, mendorong jauh semua orang yang mendekatinya, sang Gadis menolaknya mentah-mentah, Pergi! Ucap Gadis, tapi Rasa tetap datang.

Pertemuan ini, Rasa datang dengan wujud yang tidak dapat Gadis pahami. Gadis duduk memandangi Rasa, Datang dengan wujud apakah engkau kali ini? Pikir sang Gadis, Haruskah aku merengkuhmu datang? Atau menyuruhmu pulang?

Rasa ini datang bukan dengan wujud yang jelas dilihat sebelumnya, perpaduan rasa sepi tapi sedikit amarah tampak di permukaan. Sang Gadis melihatnya sebagai sebuah kondisi, jika bisa diberikan perandaian mungkin seperti ini.

Berdiri di pinggir pantai bertelanjang kaki dengan pasir-pasir lembut menyusup di antara jemari dan Ombak menyapu bibir pantai mengenai ujung kaki dengan malu-malu, Oh, hanya ombak kecil. Jadi sang Gadis mengambil sebuah langkah maju mendekati Lautan.

Lautan di depan sana bergerak pelan, sungguh pelan, menenangkan mencoba melempar umpan di balik ketenangannya di bawah cahaya bulan, Ini tidak berbahaya. Sang Gadis bergerak maju. Ombak kecil itu masih bergerak tenang dengan ritme yang sama menyapu bibir pantai dan betis–ah tidak–sekarang paha sang Gadis, Begitu menyenangkan.

Lautan terlihat bersahabat malam ini, air dari Lautan mulai membasahi dirinya, semuanya terasa menyenangkan dan sama sekali tidak berbahaya. Tidak berbahaya hingga di bawah cahaya bulan sang Gadis mendapati dirinya tiba-tiba disergap kepanikan, kepanikan yang membuat sekujur tubuhnya membatu, bergidik penuh kengerian, deru napas yang tidak lagi teratur diliputi oleh ketakutan atas asing yang muncul tiba-tiba.

Lautan tidak lagi bersahabat. Apa yang telah kulakukan? Terlambat, kakinya tidak lagi bisa menyentuh dasar pasir dan rambut hitamnya mulai basah terkena ombak-ombak yang berusaha menelan dirinya di tengah kedalaman Lautan. Berenang.  Pikir sang Gadis, tapi Lautan yang terlihat bersahabat tadi, Ombak yang menyapa ujung kaki malu-malu, dan cahaya bulan yang menerangi sekitarnya tiba-tiba menjadi sebuah mimpi buruk bagi sang Gadis. Lautan dan Ombak berusaha menelannya hidup-hidup malam ini, Tamatlah,  pikirnya.

Tidak-tidak! Itu hanya perandaian,  hadir nyatanya sang Gadis masih duduk berhadapan dengan Rasa yang datang lagi kali ini, dengan keadaan tubuh bersih, kering, dan tidak tenggelam. Saat itulah sebuah kesadaran menghantam sang Gadis dengan keras, sungguh keras hingga membuat kedua erat kepalan tangan miliknya terlepas. Rasa tidak datang sendirian, dia datang bersama Kecemasan dan Keputusasaan entah untuk apa.

Ini bukan kali pertama Rasa datang membawa kawan: di pertemuan dia berwujud anak kecil Rasa datang bersama Kasih, ketika berwujud pria tampan Rasa datang bersama Gairah, ketika berwujud teman-teman masa lalu Rasa membawa Waspada, pada pertemuan Rasa berwujud orang-orang yang dicintai sang Gadis dia datang bersama Hormat.

Tentunya sang Gadis pernah bertemu Kecemasan dan Keputusasaan sebelumnya, mereka datang lebih sering daripada Rasa. Di masa lalu mereka tinggal meski tanpa diminta, bersembunyi di balik dinding-dinding rumah milik sang Gadis, menghabiskan waktu mengatakan hal-hal tidak berguna, sampai mengakar merusak fondasi rumah milik sang Gadis. Hingga sang Gadis memutuskan untuk membersihkan rumah miliknya, pembersih itu bekerja baik karena sang Gadis menggunakannya sesuai anjuran dari sang Penjual, Kecemasan dan Keputusasaan perlahan pergi dari rumahnya saat itu.

Tapi Rasa datang membawa keduanya pada pertemuan ini, sang Gadis kewalahan, Bagaimana aku mampu mengatasi mereka bertiga sekaligus? Pikir sang Gadis. Rasa tersenyum ganjil. Sang Gadis menatap ketiga tamunya bergantian, Kupersilahkan kalian bertamu”. Sang Gadis tahu tamunya tidak perlu pengisi perut ataupun pelepas dahaga sehingga selanjutnya yang dilakukannya adalah berjalan ke arah meja belajar, membuka komputer jinjing miliknya, dan menuliskan tentang kedatangan Rasa bersama kedua kawannya hari ini.

Rasa itu datang hari ini. Dan sang Gadis telah duduk di sana, menjamu yang datang sebaik mungkin.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top