Apa yang Biasa Kauucapkan di depan Cermin?

Tiga tahun lalu, kalau mendapat pertanyaan ini, saya akan menjawab “tidak ada.” Tidak ada karena saya benci melihat diri sendiri di cermin. Jangankan cermin, tampak bayang diri sendiri di kubangan air saja membuat saya muak.

Bukan hanya karena fisik, melainkan juga dengan keseluruhan cara saya dalam memandang dunia karena terlalu meromantisasi kesedihan yang ada. Pandangan saya terhadap hidup ternyata memengaruhi rasa cinta saya untuk diri sendiri. Lama prosesnya untuk sadar bahwa dengan kebencian seperti itu akan berefek domino. Ya, oleh karena benci diri sendiri dan lalu benci orang di sekitar, akhirnya saya jadi menutup diri dan kehilangan banyak kesempatan yang tidak akan datang dua kali.

Singkat cerita, itulah saya pada tiga tahun yang lalu. Namun sekarang, senangnya, pandangan saya mulai berubah. Saya mau membuka kebiasaan kecil saya setahun belakangan. Hal ini saya dapati setelah saya belajar, dimulai dari rasa lelah dikelilingi perasaan bersalah dalam diri yang akhirnya berujung pada upaya saya untuk mencoba memaafkan diri sendiri. Selama proses itu, semesta seperti ikut membantu saya. Orang-orang baik berdatangan. Teman lama, kenalan baru, bahkan orang asing seakan ikut membantu saya untuk melihat bahwa masih banyak hal baik dalam diri saya. Di antara proses menerima dan memaafkan diri sendiri, saya mulai mengulik tentang afirmasi positif, yakni hal-hal yang kamu tulis pada secarik kertas lalu kamu ucapkan setiap saat agar nantinya diri kamu sendiri akan menjadikan itu sebagai pola pikir dalam hidup.

Kalimat pertama yang saya tulis pada post it dan saya tempel di cermin kamar agar dapat diucapkan setiap saya berkaca adalah: “I am loved, I am worthy, I am enough.”

Kalimat yang saya pikir awalnya biasa saja, ternyata lambat laun efeknya mulai terasa. Perlahan saya mulai menerima sedikit demi sedikit kekurangan yang saya miliki, sembari mencari kelebihan apa yang bisa saya temukan dalam kehidupan. Dengan menanamkan pola pikir itu di kepala setiap harinya, saya jadi lebih nyaman dengan diri saya sendiri. Lebih dari itu, saya tidak lagi menjadi kritikus yang menjengkelkan bagi diri saya sendiri.

5 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top