7 Hari Berkaca

Aku pergi sejenak ke luar kota demi menjernihkan pikiran; begitu kusut, butuh ketenangan. Belasan pesan menanyakan kabar dan telepon masuk tak kuhiraukan. Tapi aku sadar, mereka mencintaiku dengan caranya sendiri. Lalu buat apa aku mempermasalahkan kepada Tuhan atas kehilangan yang kuterima? Kenyataannya selalu ada pelangi setelah badai yang menghampiri, bukan?

Sempat aku berpikir ingin mengakhiri hidup sejenak. Dalam kegelapan dan pikiran bahwa aku tak layak dicintai, begitu sesat. Namun, sebuah pesan singkat menamparku begitu cepat, “Tuhan tak akan memberikan cobaan di luar kemampuan hambanya. Menangislah sepuasnya. Bersedihlah secukupnya,” begitu ahli. Rasanya bongkahan batu yang tertanam di dada sejak awal hancur seketika. Aku luluh.

Duduk beratapkan langit mendung, tanda sebentar lagi hujan akan turun. Menyambut isi kepala lebih jernih dan hati lebih lapang. Butuh 7 hari untuk berkaca kepada diri, mengevaluasi dan mengobati hati. Tak semuanya harus sempurna, sayang. Tak semuanya harus terburu-buru. Hidup begini adanya dan selalu tak sesuai rencana. Maaf selama ini begitu dikekang dengan ekspektasi. Kini aku membebaskanmu untuk menjalani hidup lebih manusiawi.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top