Sendiri Ketika Februari

Bulan sudah dua, dan aku masih setengah. Tuhan mungkin sangat pengertian untuk Februari tak sampai 30, tak perlu aku berlarut berpikir “sama siapa” di bulan—yang katanya—penuh kasih sayang ini. Kalau kalian tidak banyak mendapatkan ads cokelat dan kondom beberapa waktu terakhir, selamat! Nasib kita ketemu di sini.

Oh indahnya, cokelat susu dan karamel, kelopak merah dan pita bunga itu! Pasangan dan pacaran merayakannya. Mereka ingin seluruh dunia mendengarkan, andai hubungan mereka selalu semanis dan seelok tanggal empat belas. Baru saja bulan lalu mereka bilang butuh ruang dan waktu sendiri memikirkan ulang ego masing-masing. Ada juga, dia komplain dengan nada sedikit bergetar kenapa yang dilakukan untuknya juga pasangannya lakukan ke orang lain. Ia menuntut sesuatu yang spesial—untuk ke sekian kalinya. Banyak yang memiliki hubungan tetapi tidak memeliharanya. Ironisnya, ada pula, sudah setahun setengah pacaran baru sadar kalau selama ini tidak cinta. Tak senonoh patahkan hati manusia saat Februari, katanya. Foto diambil, diunggah dengan caption “Selamat Hari Valentine”.

Teduhlah hati kalian wahai teman sendiriku. Daya tarik cinta bagiku sudah seperti papan promo di depan pintu gerbang neraka. Memikat, tetapi juga mematikan. Siapa yang terbuai harus sanggup membayar harganya; kadang hanya waktu dan pilihan, namun dapat juga berarti penyesalan dan sakit yang harus ditanggung hingga bahkan melewati beberapa hubungan setelahnya. Api cinta membara di tengah-tengah dua manusia, begitu juga perbedaan idealisme, kepedulian yang mengekang, curiga tanpa henti, diam yang kejam, dipaksa melupa masa lalu. Duhai Galih dan Ratna, di sini Sartre ada benarnya, “neraka adalah orang lain”.

Kita perlu belajar jujur membayangkan cinta. Mempertanyakan imaji populer soal romantisnya hubungan bertujuan bukan untuk melenyapkan cinta, tetapi untuk menyelamatkannya. Mencintai dan dicintai itu sulit, kita perlu membahas dan mendengar lebih banyak soal ini. Sehingga ketika masih sendiri, kita mulai berhenti berpikir kalau kita tidak pantas bercinta atau merasa terpojok karena kultur mayoritas. Justru bisa jadi kitalah pionir yang membawa cinta lebih humble dan realistis bagi sesama. Kita semua—termasuk pasangan dalam masa sulit—layak mendapatkan simpati.

Terlalu lama sendiri juga tidak kalah romantis. Aku kira, orang-orang yang tak sabaran menanti justru punya risiko jauh lebih besar berakhir pada hubungan yang medioker—kita adalah golongan yang memandang hubungan mainstream tidak menggugah selera hati.

Hubungan yang kompatibel cocok untuk mereka yang berekspektasi tidak terlalu tinggi dan memilih setia menunggu pada ketepatan. Orang seperti kita ditemani tulisan, teh hangat, melodi, hujan, dan bintang di setiap malam.

Hanya saja, bukan berarti sendirian tidak memiliki kesulitan sama sekali. Faktanya adalah, kita kurang pandai berbahagia dalam status apa pun kita saat ini. Tugas cinta dalam kehidupan manusia adalah menciptakan surga dalam kesukarannya, atau biar kita tidak berharap terlalu tinggi, membuat hidup tak terlalu mirip dengan neraka. Kecupan pertama antara surga dan neraka, itulah cinta manusia.

5 2 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
2 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
NSL
NSL
3 months ago

Tulisan yang menggugah hati

GNA
GNA
3 months ago

Manusia kadang lucu. Mereka mudah terperangkap kedalam penipuan yang memakai embel-embel ‘cinta’
Cinta yang tadinya sakral dan suci berubah menjadi perlombaan “aku-manusia-paling-bahagia”

Top