Musim Hujan

Di sebuah kota yang berusaha mati-matian untuk melupakan kemarau,
Hujan akhirnya turun menghapus kau dan masa lampau.
Ia jatuh dengan lekas dan ringkas,
seperti pesan-pesan singkatku di telepon genggammu
yang tidak atau pernah kau balas.

Di jalanan, kemungkinan adalah genangan
dan kenangan adalah lubang.
Saat hujan datang,
anak-anak di dalam diriku tidak pernah bisa membedakan keduanya.
Mereka seringkali pulang ke rumah
dengan baju dan mata yang sama-sama basah.

Di halaman belakang,
kesedihan adalah pakaian yang tidak pernah kering.
Ia terlampau sering kutingalkan
dan selalu lupa kutanggalkan.

Di luar jendela,
hujan masih belum berhenti.

Di televisi,
mereka bilang
besok hujan akan turun lagi.

2
Leave a Reply

avatar
2 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
2 Comment authors
Faizah Eka Saftarimeliana Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
meliana
Guest
meliana

Waaaah, suka puisinya 🙂

Faizah Eka Saftari
Guest
Faizah Eka Saftari

Sekeren itu wah wah wah ✨

Top