Petang Tahun Lalu

Petang tahun lalu mungkin jadi gelap yang paling kamu ingat, tentang bagaimana aku tidak lagi memandang kamu sebagai aku dan kita sebagai satu. Apa yang kita takutkan akhirnya terjadi juga. Memulai dengan nyalang dan berakhir gamblang.

Percayakah kamu, jika aksaraku hanyalah rekayasa? Menata kata hanya semata membuatmu kecewa, menyerah, lalu pergi. Mengapa? Aku pun tak paham dan tak ingin mengerti. Hanya saja, keadaan memaksaku untuk berbuat demikian. Alasan klasik yang menggelitik, tentu tak bisa kamu terima.

Berbulan kemudian, kita saling hancur sendirian, sibuk merapatkan luka yang menganga semakin lebar. Miris. Kamu mati-matian menahanku pergi sedangkan aku mati-matian melangkah pergi; mati-matian bertahan untuk tidak menoleh kembali. Padahal, aku sudah lelah dan berkali-kali goyah ingin kembali pulang. Berterimakasihlah pada jarak, aku dan kamu terpaksa berdikari tanpa ada pilihan untuk kembali. Bertahun selanjutnya, kita saling jera dalam diam. Kita sudah mulai pulih walau belum bisa terbebas seutuhnya. Kita sudah mulai terbiasa tanpa hadir masing-masing walau masih saling memantau dan belum bisa sedikit bergurau. Kita sudah mulai saling selesai walau belum kembali untuk memulai.

Bertepatan dengan dua tahun kita tak lagi beriringan, aku mulai melihat lesungmu yang kembali terangkat seperti dulu. Melihat kamu yang sudah mulai berdamai dengan masa lalu, bolehkah aku merasa sedikit lebih lega? Apa aku boleh melepas rasa bersalahku itu sedikit lebih banyak? Apa aku sudah boleh bermalam tanpa bayangmu lagi? Setelah melihatmu perlahan kembali berproses menuju bahagia, apa itu berarti aku sudah diizinkan untuk mulai mencari bahagiaku lagi? Jika iya, aku akan mencoba lebih keras untuk tidak lagi mencari-cari kamu pada setiap apa yang aku kerjakan. Jika iya, aku akan mulai mencoba lebih giat untuk perlahan bangkit sebagai aku yang tidak pecundang lagi. Jika iya, izinkan aku perlahan-lahan menyusun alur dari akhir cerita kita.

Oleh karena itu, kita sudahi saja, ya, sengsara sendiri ini. Aku dan kamu punya bahagia masing-masing yang masih belum diperjuangkan. Apabila kamu kedapatan membaca tulisan singkat ini, semoga kamu paham dan percaya bahwa aku tidak pergi tanpa pertimbangan yang matang. Benar aku pecundang, sebab aku datang dengan nyalang dan pergi tanpa alasan yang masuk akal. Tapi semoga dan semoga, kamu juga turut meyakini bahwa aku tidak pernah bercanda soal kita yang saling beriring. 

Terima kasih sudah menemukanku di antara banyaknya orang yang kamu jumpai. Terima kasih telah hadir dan memberikan tahun-tahun terbaikku. Terima kasih kamu sudah bangkit dan kembali menemukan jalanmu. Terima kasih sudah pernah hadir, walau akhirnya kita tidak saling beriring. Terima kasih sudah menjadi satu-satunya yang hadir disaat seluruh dunia berpaling. Aku melepasmu untuk bahagia, dan aku melepaskan diriku dari luka.

5 4 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
shelma
shelma
1 month ago

bagus banget kak!

Top