Bahagiamu Hanya Belum Datang

Saat ini, kamu tidak punya pilihan selain bertahan. Pergi bukan pilihan, apalagi jalan keluar. Bertahan ya, sayang. Bahagiamu itu hanya belum datang.

Malam ini, cuaca sedang dingin. Kamu jadi mengidamkan hal-hal yang bisa sedikit menghangatkanmu. Soto kuah daging sapi, semangkuk bihun bebek, atau bubur ayam dengan taburan cakwe dan bawang goreng, sepertinya cukup untuk mengganjal dan menghangatkan perut kosongmu. Alih-alih memesan makanan, kamu sadar bahwa kamu mengidamkan sesuatu hangat yang lain. Sesuatu yang bisa menyelimuti hatimu dengan erat. Terlalu lama menepi, kamu jadi lupa bagaimana rasanya ketika hatimu menghangat. Kamu mulai rindu rasa hangat yang menjalar dari tangan ibumu. Kamu mulai rindu rasa hangat setelah mendengar tawa renyah keluar dari bibir ayahmu. Kamu mulai rindu rasa hangat saat ceritamu disimak dengan baik, bukan ditertawakan atau didengarkan sembari bermain ponsel.

Kamu mulai rindu bermalas-malasan tanpa perlu memikirkan hal-hal bising yang memenuhi pikiranmu. Kamu rindu rasanya menjadi diri sendiri, ah tidak, kamu bahkan sudah tak bisa ingat lagi bagaimana dirimu pada mulanya. Kamu merindukan dirimu yang dulu; dirimu yang dipenuhi kehangatan oleh dirimu sendiri. Dan astaga, lihat matamu yang sembap itu. Kamu benar-benar rindu merasa bahagia ya. Untuk saat ini, bertahan ya, sayang. Bahagiamu itu hanya belum datang.

Sembari merindukan kehangatan, pilihanmu akhirnya jatuh pada bubur ayam. Sederhana saja, kamu rindu masakan ibumu. Sambil menunggu pesananmu datang, kamu mulai putar balik dan becermin pada dirimu sendiri setahun belakangan; sendirian dan tidak nyaman, tanpa arah dan pengarah, asing dan bising. Sekali lagi, terlintas di pikiranmu bagaimana hari-hari berat itu berhasil kamu lewati—dengan terseok dan berdarah-darah. Butuh beberapa luka dan waktu yang lama bagi dirimu untuk akhirnya bisa mengucap syukur masih diberi kewarasan dan kekuatan untuk tetap bertahan sampai detik ini. Mungkin keadaan terus memaksamu untuk berjuang sendiri, tapi aku yakin, kamu bisa dan kamu mampu, sebab kamu hebat dan kamu pantas.

Setelah kenyang, kamu merasa sedikit puas. Apa bahagiamu sebatas makan kenyang? Ah, maaf kalau aku tertawa, tapi aku pun seperti itu. Bukankah kita boleh menetapkan hal-hal yang membuat kita bahagia sesuka kita? Sekadar tiduran sambil mendengarkan suara hujan, sekadar menonton kartun favorit sambil menikmati es krim sebelum mencair, dan sekadar-sekadar lainnya yang mungkin saja sudah kamu bayangkan saat membaca tulisan ini. Bahagia kita subjektif dan tidak mutlak, dan sangat manusiawi. Bahagiamu bisa saja kamu nikmati dengan mendekam di kamar sepanjang hari, saat bahagia temanmu itu berjalan-jalan menikmati pagi. Bahagiamu itu tidak bisa dibandingkan dengan bahagia teman-temanmu.

Semakin malam, kamu semakin berisik. Kamu melihat terlalu jauh ke belakang, saat kamu selalu bersepeda tidak tahu diri dan tertawa lepas dengan temanmu karena kalian sama-sama tak kuat menaiki tanjakan, sampai masuk angin dan dihukum tidak boleh bersepeda seminggu setelahnya. Ah, kamu jadi semakin rindu masa-masa itu. Sepertinya benar bahwa kadar bahagia kita terus bertambah seiring kita semakin dewasa. Dunia semakin kejam dan kita semakin habis dilalap waktu untuk sekadar melakukan hal-hal kecil agar tetap waras. Saat itu terjadi, satu-satunya yang dapat kita lakukan adalah mencintai diri sendiri sebanyak-banyaknya. Sebab sekali lagi, bahagiamu itu hanya belum datang.

Selamat tidur, sayang! Semoga tidurmu nyenyak dan kamu hanya memimpikan kenangan-kenangan baik dan menyenangkan. Hari ini berat untukmu, tetapi terima kasih sudah bertahan untuk satu hari ini. Kamu hebat dan aku bangga! Janji ya, kamu jangan pergi dulu. Kamu tidak sebanding dengan segala sesuatu yang kamu rasa berlipat-lipat lebih baik di atasmu. Kamu terlalu berharga untuk berhenti sampai di sini saja. Besok pagi, kita bertahan lagi ya. Bertahan sampai kamu punya cukup kekuatan untuk mulai berjalan lagi. Kalau bahagiamu belum datang, mungkin ini saatnya kamu berhenti sejenak untuk mengapresiasi dirimu yang selalu bertahan, sebelum kembali berjalan perlahan. Sebab percayalah, suatu saat nanti, kamu akan menjumpai dirimu tersenyum lebar di tahap bahagia dalam hidupmu.

1
Leave a Reply

avatar
1 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
1 Comment authors
Winda Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Winda
Guest
Winda

Untuk kak Josephine Clarissa

Terimakasih sudah menulis tulisan yang saat indah
Tulisan yang saya merasa itu untuk saya
Terimakasih untuk kata penyemangatnya
Terimakasih sudah mewakilkan semuanya

Top