folder Filed in Prosa, Sekitar, Yang Lain
Tak Perlu Sama
Seperti kata kak Novie Ocktaviane di buku Bertumbuh, “Kilometer nol setiap orang itu berbeda. Kita tak perlu memaksakan sama.”
Janatun Rahmilah comment 0 Comments access_time 3 min read

Seperti kata kak Novie Ocktaviane di buku Bertumbuh, “Kilometer nol setiap orang itu berbeda. Kita tak perlu memaksakan sama.”

Saya kilometer nol nya di Bandung, kamu mungkin di Jakarta, Depok, Bekasi, dan kota lainnya sesuai tempatmu berada. Kalau tujuan kita ke Ciamis, maka yang sampai duluan kemungkinan saya, lalu kamu menyusul. Belum lagi ditambah kemungkinan terjadi hal lain di perjalanan. Melewati kemacetan atau melalui jalan alternatif. Melaju tanpa henti atau berhenti sejenak. Sampai tujuan atau mogok di jalan.

Memaknai setiap perjalanan itu tak perlu sama. Semua akan merasakan, melewati, dan menyelesaikan setiap tahapannya. Hanya saja Tuhan mengujimu di beberapa titik.

Titik Lulus. Ada yang masih berkutat dengan data, narasumber, lalu mentok di bab empat. Ada juga yang sudah lulus tapi sulit memulai revisi sampai ijazah hanya sampul tanpa isi.

Titik Pekerjaan. Ada yang sudah lulus, malah susah mencari kerja. Ada juga yang banting setir ke ‘peluang’ tanpa memikirkan salah jurusan.

Titik Pasangan. Ada yang ingin segera menikah, tapi belum juga Tuhan kabulkan. Ada pula yang sudah lama menjalin cinta, tapi tak kunjung saling mengikat.

Titik Keluarga. Ada yang sudah menikah, tapi tak kunjung punya keturunan. Ada juga yang menghabiskan dana ratusan juta hanya untuk satu buah hati. Adapun yang mudah Tuhan kasih, tapi ia susah berterimakasih. Ada yang hubungannya kurang harmonis dengan pasangan, mertua, atau saudara.

Kita ada di posisi mana?

Tidak di salah satunya? Ya, karna kita tak perlu sama. Atau sedang mengalami salah satunya? Atau bahkan semuanya pernah dilalui?

Momen lebaran sejujurnya adalah momen bersilaturrahim. Tapi sejujurnya lagi adalah ajang prestisius. Tak jarang kita memulai dengan pertanyaan, “Kerja dimana?”.

Entah itu bentuk pertanyaan, kepedulian, atau ingin ditanya balik.

Atau semudah pertanyaan dan sesulit jawaban, “Kapan nikah?”.

Ada juga pernyataan fisik yang acap kali merusak mood, “Gendutan ya…”

Kadang ingin jawab, “Iya da aku teh makan kejo (nasi) lain keju atuh. Hahaha”

Saya pernah baca tulisan orang, memberi pertanyaan itu harus disertai solusi.

“Oh kebetulan, ada kenalan yang kerja di perusahaan dan butuh orang, siapa tau cocok”.

Atau…

“Wah belum ada calon ya, gimana kalo aku kenalin ke temen yang lagi nyari juga”.

Atau…

“Aku juga dulu gendut, terus minum ini jadi langsing. Mau coba nggak? Nih buat kamu gratis”.

1, 2, 3 ngayal semuanyaaa… Hahaha khayalan tingkat tinggi gue melayang😂

Rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau, lebih lebat, lebih sejuk, lebih indah. Sampai kita berpikiran ingin sama dengannya. 

Untungnya saya sudah mulai kebal dengan pertanyaan di atas. Kebal? Atau kesal? Haha.

Tidak perlu kan kita harus sama dengannya, kemarin dia menikah lantas lusa kita menyusul gituMain sikat aja gitu?

Mau gendut kek, kurus kek, kenapa untuk memulai obrolan harus diawali dengan fisik sih?

Ada waktu-Nya. Menikah, karir, fisik. Semua ada waktu-Nya.

Nanti juga kita akan mengkerut pada waktunya kan. Mau ke Nahasha, Era, atau pake Sariaku, Purbasare, Wadah, Nyebellin, Tevlon. Semua akan merasakan tanpa bisa menolak.

 

Tak perlu sama. Pastikan, keputusan yang kita jalani tanpa keputusasaan. Getir, juang, capaian. Kita yang tahu, kita yang mampu. Tak perlu sama, menyamakan, atau ingin sama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment