Jakarta dan Anak-Anak yang Keburu Besar

Catatan setelah mendengarkan “Pikiran Yang Matang” dari Perunggu.

Jakarta dan Anak-Anak yang Keburu Besar

Catatan setelah mendengarkan “Pikiran Yang Matang” dari Perunggu.

13/02/2026

Suara mesin kompresor water, hingga tiupan ac central, hingga gemuruh air hujan di luar ruang kerja mendadak terdengar jelas semua. Sudah sejam berlalu, pikiran ini melaju tak tentu arah. Apa yang ada di kepala untuk dikerjakan menguap begitu saja. Hingga suara-suara yang selama ini menemani seluruh waktu ku di kantor begitu jelas terdengar. Tanpa pamrih dan tak peduli untuk dipedulikan keberadaannya.

Tubuh ini rupanya mengaktifkan alarmnya sendiri. Otomatis tanpa diminta. Atau memang terlalu banyak hal yang dipikirkan dan ingin dikerjakan, namun tak kuasa untuk dijalankan. Belakangan kesibukan urusan kerja memang luar biasa menyita perhatian dan pikiran.

Belasan tahun berlalu sejak mendapatkan promosi, etos kerjaku juga meningkat. Tak ada lagi perhitungan tentang durasi kerja. Ada tantangan yang harus selalu ditaklukkan. Rasanya seperti itu. Hari demi hari. Merasa begitu puas ketika standar dan nilai tertentu berhasil dicapai.

Seperti candu. Saat satu tantangan terselesaikan, maka terus mencari tantangan yang lain. Lagi-lagi, waktu yang dikorbankan. Tanpa sadar. Seluruh hidup bagai kuserahkan untuk pekerjaan. Tak terasa anak-anakku mulai besar. Momen bertumbuhnya banyak hilang. Aku tak ada untuk mendampinginya.

Sayangnya ini Jakarta. Tempat semua orang berkompetisi dengan nilai-nilai profesionalisme yang dijunjung tinggi. Klop sudah. Rasanya apa yang kulakukan memang sejalan seiring dengan cita-cita menggapai ambisi kesuksesan versi industri. Bahwa produktivitas dan kinerja punya konsekuensi waktu. Di mana setiap detiknya, ada momen berharga dalam keluarga yang dikorbankan. Dan waktu tak bisa digantikan dan ditarik mundur.

Bukan berarti mengabaikan dan tidak bersyukur dengan pekerjaan yang ada. Biasa saja. Semua tetap dikerjakan sesuai porsi dan tanggung jawab. Seperti hari-hari sebelumnya, Senin sampai Jumat. Tak jarang akhir pekan ikut menurut. Semuanya berjalan seperti itu. Sudah berpola. Seperti isi kepala yang penuh di Transjakarta di saat jam berangkat kerja.

Belakangan hujan berhari-hari. Langit abu dan cuaca jadi lebih sejuk. Air hujan yang statis dengan gemuruhnya membuat aku begitu nyaman berada di pelukan anak-anak dan pasangan. Jeda sebentar. Tak mengapa terlambat datang ke sekolah dan kantor. Pikirku.

Mulai kini aku ambil sikap, memberanikan diri untuk menjamah hidupku yang seharusnya. Hidupku yang penuh riuh tawa dan tangis bocah-bocah di rumah. Kadang pasangan juga ikut ingin dimanja dan ngopi bareng di teras belakang rumah.

Mereka lah yang seharusnya mendapatkan waktu prioritasku. Bukan pekerjaan. Bukan ambisi yang terus kukejar. Terlalu lama tumbuh menjadi masyarakat modern yang lupa melihat ke dalam diri sendiri. Seperti bangun di waktu Subuh, saat semua waktu terasa amat lambat dan kita bisa mengerjakan banyak hal. 

Ternyata aku bisa memilih untuk mengontrol situasi. Memulai tirakat. Bukan sekadar work-life balance yang diglorifikasi pecandu konten. Tapi latihan batin yang menuntut disiplin dengan melakukan praktik berkesadaran untuk merebut kontrol.

Baru kali ini kusadari sepenuhnya. Setelah bertahun-tahun mengabaikan semua suara yang sunyi dari permintaan mereka yang di rumah untuk diperhatikan. Seperti sepenggal lirik di lagu “Pikiran Yang Matang” milik Perunggu: Banyak yang butuh perhatianku.

Tak ada kata terlambat, untuk melambat sebagai bentuk kasih, kehadiran, dan pengendalian diri untuk atur ulang prioritas demi kualitas hidup yang kita upayakan semakin baik. Sampai tak kita sadari, inilah bentuk kematangan berpikir kita. Anak-anak tumbuh besar bersama kehadiran kita.

Dzulfikri Putra Malawi

Praktisi media, jurnalis, dan penulis yang sangat antusias dalam mengembangkan strategi komunikasi yang berdampak dengan mengorkestrasi ide-ide untuk kebutuhan audiens dan media. Terlibat dalam industri musik bersama Wara Musika (Story Telling Music Agency) yang didirikannya tahun 2018; menulis buku “LOKANANTA” secara kolektif.
  • Dzulfikri Putra Malawi

    Praktisi media, jurnalis, dan penulis yang sangat antusias dalam mengembangkan strategi komunikasi yang berdampak dengan mengorkestrasi ide-ide untuk kebutuhan audiens dan media. Terlibat dalam industri musik bersama Wara Musika (Story Telling Music Agency) yang didirikannya tahun 2018; menulis buku "LOKANANTA" secara kolektif.

Bagikan:

Facebook
Twitter
LinkedIn
Email
WhatsApp

Lihat Juga