folder Filed in Prosa, Sendiri, Yang Harus, Yang Sekarang
Jakarta Pukul Tiga
Ayah bercerita perihal hidupnya yang penuh akan kerja keras sampai hasil menyapa tanpa berkhianat. Ibu bercerita mengenai iklim impiannya yang terbentang sampai senja menjelma.
Irwan Maulana comment One Comment access_time 1 min read

“Apa kabar?” sebuah pertanyaan seribu makna.

Sudah terpaut sepekan sejak senja meninggalkan corak tak berarti di wajah jumantara. Yang terbesit hanya semburat garis menua bersama. Ayah bercerita perihal hidupnya yang penuh akan kerja keras sampai hasil menyapa tanpa berkhianat. Ibu bercerita mengenai iklim impiannya yang terbentang sampai senja menjelma. Perihal waktu, aku percaya semua berawal dari waktu dan berakhir dengan waktu. Untuk sekawan, kalian tidak sendiri. Kita hidup untuk saling kuat-menguatkan bukan untuk saling jatuh-menjatuhkan. Kita ini unik, tidak sama tetapi tuhan punya cara untuk kita saling bersama. Kita ini spesial, Tuhan punya cara untuk memisahkan tujuan kita dengan takaran yang sesuai.

Bukan berarti kita ini bodoh, kita ini cerdas dengan segala takaran yang telah dituang. Untuk kamu yang merasa sia-sia, jangan risau. Kamu tidak sedang sendiri. Kamu bukan sia-sia, hanya saja tuhan punya banyak kejutan yang kamu sendiri harus mengetahui ‘kode’ indah dari-Nya. Hidup hanya persoalan kamu jalan sesuai apa yang telah kamu tuju dan semesta merestui.

Bukan persoalan “Ini ada aku, tidak ada yang bisa menandingiku!” bukan, bukan begitu latarnya.

Kamu cukup menjadi “Akhirnya tuhan, aku bisa menjadi diriku sendiri. Aku bisa mengikuti tantangan yang kau beri dan aku bahagia menerimanya.”

Kepada manusia yang sedang merasa lumpuh batinnya. Serasa dunia tidak berpihak, semesta menolak dan insan lain merompak. Kamu tidak sendiri. Tuhan akan selalu menjadi tempat untuk singgah, awal hingga akhir. Tuhan selalu tersenyum untuk kamu dan kita. Karena kita tempat untuk belajar dan tuhan tempat untuk menilai, perihal manusia aku kira kita ini tempat untuk terbatas. Berusahalah sampai titik nadir bersimbah air mata. Karena kapal butuh pelabuhan, seperti doa pada sepertiga malam mu kepada Tuhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment