Tentang Mereka yang Bertahan dan Tetap Tinggal

Malam itu kami duduk di taman, ditemani lampu taman yang cukup terang sehingga aku dapat melihat raut wajahnya dengan jelas. “Janji ya, kita akan terus bertahan dan takkan pernah saling meninggalkan”. Saat kalimat itu terlontarkan dari mulutnya, ada harapan baru di sana. Ada banyak tujuan yang ingin dicapai bersama. Matanya berbinar. Bibirnya tulus menyunggingkan senyum. “kita berjuang sama-sama…”

Bukan menyoal perjanjian cinta sepasang kekasih, ataupun cinta sepasang suami istri. Lalu apa?

Tentang teman sejati yang tengah berjuang.

Di saat keluarga tak bisa dijadikan tempat mengadu, kau butuh sahabat ‘tuk menghapus sendu.

Ketika sedang banyak masalah, pikiran kacau, tugas yang menumpuk setiap harinya, dan banyak kewajiban yang belum terselesaikan, aku tidak tau lagi harus berbuat apa. Bisanya cuma nangis dan ingin nyerah saja. Setiap kekacauan itu datang, selalu ada mereka yang bertahan untuk menjadi penopang pundak yang lemah ini. Telinga mereka selalu siap mendengarkan celotehan dari mulutku ini. Dan pelukan mereka selalu menghangatkan. Mereka yang tidak pernah menghilang, selalu ada dan tetap tinggal. Cara mereka memang tak selalu manis, namun dapat meredakan hati yang telah teriris. Dan kekonyolannya dapat meredam luka menjadi tawa.

Terkadang mereka seperti pasukan perang yang saling melindungi. Ketika salah seorang melemah, yang lain maju sebagai garda terdepan untuk melibas lawan. Namun pada akhirnya, tak semuanya bertahan. Saat perang berlangsung, banyak yang mundur perlahan dan menghilang begitu saja. 

Begitulah kira-kira analoginya.

Lalu bagaimana dengan janji di taman? Mereka hilang satu per satu.

Tak apa, yang sejati adalah yang tetap bertahan.

1
Leave a Reply

avatar
1 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
1 Comment authors
Melisa Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Melisa
Guest
Melisa

Baper sama tulisannya, keren

Top