folder Filed in Adalah, Cerpen
Orang Baik
Hal-hal di balik citra selalu gagal ditangkap mata.
Inez Gazali comment One Comment access_time 4 min read

Bukan, cerita ini bukan tentangku. Untuk apa aku bercerita tentang hidupku? Hidupku bermasalah, dan kupikir semua orang juga punya masalah, bukan? Jadi tidak ada gunanya aku menceritakan tentang diriku.

Ini tentang seseorang yang tidak kukenal. Sebut saja Orang Baik. Orang Baik merupakan seorang aktor yang cukup terkenal di kotaku. Mungkin karena seperti namanya, ia juga terkenal karena kebaikannya. Aku sering melihatnya di TV, ia berbicara kebaikan dan kejujuran. Bahkan, ia tidak segan-segan memberikan pendapat mengenai isu-isu tertentu dan keberpihakannya pada mereka yang dipandang sebelah mata.

Hari ini, aku melihat Orang Baik lagi di sebuah stasiun TV. Ia diminta memberikan pendapat mengenai isu kekerasan yang dialami oleh seorang artis wanita yang membuat hampir semua stasiun TV menayangkan berita yang sama selama tujuh hari berturut-turut.

Orang Baik dengan sabar menjawab pertanyaan wartawan-wartawan yang menghampirinya di sebuah premier film produksi lokal. Raut mukanya serius saat ia memberikan pendapat bagaimana kita, sebagai manusia harus menghormati satu sama lain. Lain waktu, ia tertawa, memperlihatkan lesung pipitnya, ketika mendengar pertanyaan wartawan yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan isu artis wanita itu. Bagaimana mungkin si wartawan mengaitkan isu artis wanita dengan hubungan Orang Baik dengan kehidupan percintaannya?

Melihatnya tertawa tanpa beban, membuatku teringat dengan kejadian beberapa hari lalu. Saat itu, aku sedang mencari kafe yang unik untuk sekadar diunggah di Instagram. Atas rekomendasi temanku, aku mengunjungi Circle Café, yang ternyata dimiliki oleh Orang Baik. Bahkan kabarnya, Orang Baik hampir setiap hari di sana, untuk turun langsung melayani pengunjungnya.

Sesampainya di sana, benar saja, kulihat Orang Baik sedang melayani seorang customer. Walaupun ia adalah seorang aktor ternama, tidak sungkan ia membawa nampan, mengantarkan pesanan ke meja pengunjung. Tak lupa ia memberikan senyum manis dan mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya saat si pengunjung tersebut meminta berfoto bersama.

Duduk di salah satu meja dekat display, aku memesan Spaghetti Bolognese dan milkshake rasa vanila sebagai menu percobaan. Desainnya memang cukup unik, tapi belum tentu disertai rasa makanan yang enak, kan?

Tak berapa lama, mungkin karena aku tidak lapar sekali maka terasa sebentar, pesananku datang. Orang Baik sendiri yang mengantarkannya. Posisinya yang hanya berjarak sentimeter dari tempatku duduk, membuatku melihat sosok yang lebih nyata ketimbang di layar kaca. Selamat menikmati, ia menyapaku. Tidak lupa ia menyunggingkan senyumnya, menampakkan lesung pipit yang membuatnya mudah mendapatkan kekasih.

Tapi, tunggu, aku merasa ada yang salah dengan minuman yang diletakkan di meja. Aku memesan milkshake vanila, bukan milkshake oreo, kataku kepada Orang Baik. Aku menjaga suaraku tetap sopan, walaupun poinku sedikit berkurang akan pelayanan Circle Café, yang menurut salah satu situs travel lokal, menjadi salah satu dari sepuluh kafe yang masuk ke dalam kategori The Best Café in Town. Orang Baik kemudian melihat order receipt yang ditempelkan di mejaku sebelum pesanan datang. Dahinya berkerut, dan mukanya tiba-tiba terlihat masam.

Kejadian selanjutnya membuatku terkejut setengah mati. Orang Baik memanggil salah satu karyawannya yang mencatat pesananku. Di depanku, ia menegur, kalau tidak mau dibilang memarahi, karyawannya. Nada suaranya ketus, seperti membentak, walaupun sangat terlihat ia berusaha menjaga volume suaranya agar tetap pelan. Orang Baik berkata bagaimana si karyawan bisa salah catat? Mengapa ia bisa tidak fokus saat bekerja? Bagaimana jika si karyawan salah terus? Circle Café akan ditinggalkan customer-nya dan akhirnya akan tutup karena bangkrut.

Di depannya, si karyawan hanya mengangguk-angguk, menerima sikap atasannya. Berkali-kali ia minta maaf pada Orang Baik, sebelum minta maaf kepadaku. Kucoba menetralkan suasana dengan menerima pesanan minuman yang salah. Tidak apa-apa, kataku berkali-kali, merasa tidak enak hati pada si karyawan. Orang baik pun juga meminta maaf padaku, walaupun raut masamnya tidak berubah. Hilang sudah keramahannya yang selalu kulihat di TV, yang ada hanyalah sosok atasan galak karena memarahi karyawannya di depan pengunjung. Tidakkah ia berpikir betapa malunya si karyawan karena ditegur di depan pengunjung? Tidak bisakah ia berbicara empat mata saja di ruangan tersendiri? Berbagai pikiran berlalu-lalang di kepalaku.

Ah, mengapa aku jadi seperti bergosip mengenai kejelekan orang lain? Mengapa pula aku harus bersikap judgmental terhadap Orang Baik? Mungkin saja hari itu Orang Baik sedang banyak masalah dan tidak sengaja, ia menumpahkan emosinya pada orang lain. Namun, maksudku sebelum kita berbicara mengenai kebaikan, sebelum kita berbicara mengenai agama dan Sang Pencipta dan sebelum kita beradu argumen, membela kelompok yang ‘tersingkirkan’, mungkin kita bisa pergi ke kamar, berpikir dan berbicara dengan sosok di dalam kaca. Sudahkah kita sendiri berbuat apa yang selalu kita bicarakan? Karena mungkin, mungkin, bisa saja aku salah, mungkin kita tidak butuh kata-kata mutiara, melainkan aksi nyata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment