Esok adalah hari ulang tahun Dini. Sejak sore, ia terlihat gembira. Biasanya jika keesokan harinya Dini atau Dana, adiknya, berulangtahun, maka pulang tepat waktu atau bahkan lebih cepat, lengkap dengan kue kecil dan lilin yang akan ditiup jam dua belas lebih satu menit malam nanti.

Namun, hingga jam makan malam tiba, sang ayah belum juga tiba. Ibu yang terlihat tenang membuat Dini heran, tidakkah ia khawatir? “Paling sebentar lagi. Sudah kamu makan dulu. Mumpung sayur dan tahunya masih hangat.” Jawab Ibunya. Tepat saat itu, telepon genggam Ibunya berdering. Dini berharap sangat itu adalah ayahnya yang menelpon.
“Oh iya, iya. Sudah Bapak makan dulu saja di sana. Jangan khawatir, kami juga sedang makan di sini.” Ibu terlihat tetap tenang, sebelum akhirnya diam sejenak dan melanjutkan dengan “Iya, nanti saya beritahu.” dan menutup teleponnya.

“Ada apa Bu?” Makanan yang dikunyahnya sampai hampir keluar karena Dini terburu-buru berbicara. “Ayah akan pulang larut malam ini.” Hanya itu yang Ibu katakan. Seperti bisa membaca raut wajah Dini yang campur aduk antara bingung dan penasaran, Ibu berkata lagi. “Demonstrasi sejak tadi siang belum juga usai. Ayah diminta bekerja lagi karena butuh pekerja tambahan di lapangan. Pulangnya belum tahu kapan, tunggu demonstrasi benar-benar selesai.” Jawaban sang Ibu pun tidak memuaskannya. Tapi ini sudah jam tujuh lebih! protes Dini dalam hati. Ia tahu, kadang jadwal kerja Ayahnya tidak menentu. Kadang ayahnya bisa pulang tepat waktu atau lembur sampai jam enam sore. Tapi tidak lebih dari jam itu.

Lagipula, mengapa harus hari ini? Mengapa ayahnya harus bekerja lembur di saat jam pergantian umurnya semakin dekat? Mengapa ayahnya tidak minta ijin saja pada atasannya untuk pulang sekarang? Yang paling penting, akankah sang ayah berada di sampingnya, ikut menyanyikan lagu “Selamat Ulang Tahun” tengah malam nanti? Ayah yang selalu Dini banggakan. Ayah yang selalu tampak keren di matanya dengan seragam oranye-nya tidak peduli kata teman-temannya yang berkata “hanya tukang bersih-bersih”. Ayah yang tidak pernah lupa meluangkan waktu untuk bermain dan mendengarkannya bercerita di tengah kelelahannya sehabis bekerja. Ayah, yang untuk kali pertama membuat Dini kecewa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment