folder Filed in Cerpen
Suatu Sore di Stasiun
Maafkan aku tak pandai membaca isyarat alam, firasatku semu. Andai aku tau sore itu adalah hari terakhirmu, akan kupersembahkan perpisahan terbaik.
Indry Wahyuningsih comment One Comment access_time 4 min read

Suatu sore yang dingin dengan langit keabuan di atas sana. Kamu mencoba menghangatkannya dengan gurauanmu yang sama sekali tidak lucu, seperti biasanya. Kami telah tiba di stasiun. Katanya tempat ini saksi kunci bagi banyak pertemuan, perpisahan, juga janji-janji yang terpatahkan atau terpaksa dibekukan keadaan. Kereta datang silih berganti, manusia dengan segala kepentingan dan ambisinya hilir mudik. Kamu menarik tanganku menuju salah satu cafe di dalam stasiun, padahal sedang dikejar waktu. “ Aku lapar Nay, Pengen makan sama kamu bentar” katamu santai. Aku diam saja, sedari tadi tidak antusias. Harusnya hari ini aku bisa nonton konser, tetapi batal karena mama memaksaku mengantarmu. Kamu memesan dua cangkir kopi hangat dan dua buah roti mentega. Kita duduk berhadapan. Ada kamu yang menceritakan segalanya, dan ada aku yang berusaha tak mendengarkan.

Sore menjelang malam, kamu mencoba mengecup keningku, tapi aku menghindar. Kamu mencoba memelukku, kali ini aku gagal menghindar. “Apa sih malu dilihat orang- orang” kataku ketus. “Emang kamu masih bocah” katamu tertawa sambil mengusap kepalaku. Lalu, kamu mulai membuat janji- janji sepihak, janji tidak terlalu rindu, janji nonton konser bersamamu tahun depan, janji untuk baik-baik saja, janji untuk menjaga diri, janji untuk menjaga mama, janji-janji yang tak sempat benar-benar kusanggupi. Aku melepasmu bersama bebunyian kereta. Kutatap punggungmu yang menjauh dengan tatapan paling ikhlas. Setidaknya kamu tidak perlu tahu bahwa ada bahu yang terkoyak gagal menahan air mata setelah aku berbalik badan.
Baiklah, harus kuakui aku termakan gengsi. Sikap dinginku bukan karena batal nonton konser sebab harus mengantarmu. Hanya saja aku tidak bisa mengungkapkan betapa aku ingin kamu tetap tinggal dan aku membenci perpisahan ini. Aku memang tidak pernah pandai mengungkapkan perasaan, kamu tau kan.

Satu hari kemudian, masih dengan mendung yang sama mama terkulai pingsan. Aku menemukan gagang telefon rumah tergeletak dengan suara seorang wanita memanggil-manggil memastikan ia tidak sedang berbicara sendirian. Kuraih telefon itu, kudengarkan kata demi kata yang diucapkanya. Hari kemarin tak akan terulang. Kepada seseorang yang melambaikan tangan tepat saat aku berbalik badan, kuucapkan selamat jalan.

Maafkan aku tak pandai membaca isyarat alam, firasatku semu. Andai aku tau sore itu adalah hari terakhirmu, akan kupersembahkan perpisahan terbaik. Akan kukatakan padamu bahwa aku ingin kamu tetap tinggal, tapi jika kamu memang tetap akan pergi untuk mengejar mimpimu maka akan kulepas keberangkatanmu dengan mengatakan betapa aku mencintaimu dan doaku selalu menyertai citamu. Ah, sayangnya aku kenyang memakan gengsi kemarin. Andai aku tau sore itu adalah secangkir kopi terakhirmu, akan kunikmati setiap tegukannya. Kuberhentikan malam lalu kita bisa ngobrol sepuasnya. Ah, sayangnya aku kenyang memakan gengsi kemarin. Andai sore itu aku tau akan menjadi perpisahan yang sebenarnya, akan kupeluk erat-erat ragamu hingga kita bisa saling merasakan detak jantung masing-masing. Kamu benar, aku masih bocah dan bertingkah sangat kekanakan.

Kak, terkadang hal yang paling menyakitkan dari ditinggalkan orang terkasih bukan saat mendengarkan haru tangis di acara pemakaman. Bagian yang paling menyakitkan adalah aku terlambat mensyukuri kehadiranmu. Aku terlambat, kak.
Satu tahun berlalu. Hari ini kususuri lagi setiap jengkal langkah kita di stasiun ini. Ada tawamu diantara bebunyian kereta, senyumu sekelebat lewat dalam ingatan diantara pemandangan muka-muka lusuh penumpang sepulang kerja. Aku berjalan menuju cafe memesan secangkir kopi hangat dan sebuah roti mentega. Kuhirup aromanya dalam-dalam seolah aku sedang menghirup aromamu, kau hadir disana menyelinap diantara syaraf- syaraf indra penciumanku. Kuambil earphone dari dalam tas, kubuka playlist, Emilia- big big world, play.

I am a big big girl
In a big big world
Its not a big big thing if you leave me
But I do do feel
That I do do will
Miss you much, miss you much

Kak Reno, aku tidak sedang baik- baik saja setelah kepergianmu dan aku berada di puncak rindu. Tapi setidaknya ini mengajarkanku tentang satu hal berharga. Syukuri kehadiran orang-orang yang mencintai kita, persembahkan cinta terbaik, karena mereka akan pergi pada waktu yang tidak pernah kita duga. Kak, jangan khawatir, mama aman bersamaku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment