Dari Jarak Sampai Ikhlas

Sudah hampir tujuh tahun aku memutuskan untuk jauh dari rumah karena pendidikanku. Selama itu, berkurang juga intensitasku dengan keluarga, termasuk dalam perayaan-perayaan ulang tahun yang tak pernah lagi kurasakan bersama mereka. 

Tujuanku hanya ingin menjadi pribadi yang mandiri waktu itu. Pada suatu hari, dunia kehadiran sebuah pandemi yang mengakibatkan kegiatan pembelajaran harus dari rumah. Bahkan semua kegiatan harus dilakukan di rumah. Bapakku bertanya akan kepulanganku ke rumah. Dia juga mengeluhkan, katanya aku kok lama sekali datangnya. Dia setia menunggu kedatanganku. 

Aku pun berangkat dari kos ke bandara dan sesampainya di bandara kedatangan, aku dijemput oleh abang, bapak dan mamaku. Hatiku girang seketika. Esok harinya kami bertemu dengan dokter karena memang bapakku mempunyai penyakit yang cukup serius. Lalu kami pun melanjutkan perjalanan pulang ke rumah. Kali ini, aktivitasku di rumah sedikit berbeda dari biasanya, seperti menyuapkan nasi dan memberi obat-obatan kepada bapak. Sampai pada suatu saat, di sore hari menjelang malam, aku menghampiri kamar bapak dan mencoba membangunkannya dari tidur sorenya. Ternyata, saat itu juga kudapati seluruh telapak tangannya putih pucat, nadinya tak lagi berdenyut sehingga ia tak lagi bisa bangun, tak lagi bernyawa dan tak bisa berkumpul bersama kami. Benar-benar hancur rasanya kehilangan orang yang paling kusayangi, tangis dan teriakan pun tiada henti sepanjang malam itu. Semua yang terjadi seperti menjadi mimpi buruk terburukku. Aku sempat sakit karena situasi ini cukup membuatku jatuh sejatuh-jatuhnya. Sirna sudah harapanku akan orang tua yang lengkap saat hari wisudaku nantinya. Banyak harapan-harapan yang sudah jatuh sebelum naik. Di saat aku sudah pulang ke rumah, tetapi ternyata ia pergi dari rumah dan tidak akan pernah bisa kembali lagi.

Hari demi hari kulewati, terasa sepi dan seperti mimpi sampai aku berada di suatu titik yang membuatku mulai menerima semua ini, mulai ikhlas akan kepergian bapak. Karena pada akhirnya semua yang diberikan Sang Pencipta, akan kembali juga kepada Sang Pencipta. Tidak ada yang kuat bertahan selamanya dan tidak ada pula yang abadi. Siapa pun dan apa pun itu, kasihi selagi masih bersua. Waktu sangat amat berharga dan tak pula bisa ditawar.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top