Kejutan Selalu Datang

Waktu yang telah aku habiskan untuk menjalani hidup di dunia ini, terkadang membuatku merasa bahwa aku sudah sangat mengenal dunia beserta segala kehidupan yang terjadi di dalamnya. Kehidupan bersosial yang aku jalani selama ini membuat diriku telah khatam dengan segala intrik di dalamnya sehingga aku berpikir bahwa aku tidak akan kaget dengan segala peristiwa yang terjadi dan juga tidak akan ada kebodohan yang melingkupi diri karena aku sudah selesai belajar kehidupan.

Aku dengan segala kepercayaan diri berada di tempat asing, tempat asing yang awalnya tidak aku takuti karena alasan tadi. Namun, siapa sangka selama apa pun aku hidup, segala peristiwa yang mengagetkan dan membuat diri merasa bodoh tetap tidak dapat dihindari. Aku yang awalnya merasa tinggi, seketika menundukkan kepala sejenak dan tersadar bahwa hidup adalah tentang pembelajaran. Aku akan terus merasa kaget dan bodoh sampai akhir untuk mendapat pembelajaran itu. 

Kejutan itu membuatku tersadar bahwa dunia terkadang tidak berjalan seperti yang kita inginkan. Seseorang yang menjadi tempatku berkeluh kesah berkata kepadaku, bahwa dunia itu kejam dan akan terus ada kejutan yang akan menanti diriku. Yang harus aku lakukan adalah tetap kuat dan jangan terlalu terpaku dengan perubahan yang terjadi.

Benar saja kata kawanku ini, di tempat asing ini dalam waktu yang singkat banyak hal baru dan tidak pernah kurasakan sebelumnya terus-menerus terjadi secara beruntun. Awalnya, aku yang tak pernah menyesali segala sesuatu yang telah aku lakukan, seketika sedikit menyesalinya, “Andai saja aku tidak seperti ini”. Masalah terus saja menderaku dari segala sisi, padahal belum juga pulih luka yang ini sudah muncul luka baru di tempat lain. Energiku habis, emosiku terkuras. Terkadang aku merasa lelah, tidak sanggup untuk bangkit, dan kembali menjalani hidup dengan bahagia dan ceria, senyumku terenggut. Aku tidak dapat menerima segala peristiwa itu, aku terus mencari dan menggali siapa yang salah di sini, aku terombang-ambing. Semakin aku menyalahkan, semakin aku marah. Semakin aku marah, semakin aku merasa lelah. 

Aku menjadi bertanya-tanya, “Apakah ada yang salah denganku?”. Aku merasa menjadi manusia hina, tak pantas, dan rendahan. Aku merasa malu kepada orang-orang. Sering kali aku tidak mau bangun dari tidurku, aku tidak mau menjalani hariku, aku tak sanggup. Aku telah terjebak dan jatuh dalam persoalanku. Teringat pepatah “Hidup segan mati tak mau”, itulah yang kurasakan saat itu. Aku baru menyadari makna sebenarnya dan aku tak menyangka kalau aku akan mengalaminya, sungguh tak terduga. 

Kata orang kita tak boleh memendam masalah sendiri, aku pun telah bercerita kepada orang yang kupercaya, tetapi itu hanya lega sesaat dan aku terhibur sementara. Setelah itu, kelegaan dan kesenangan itu hilang, aku masih di lubang penyesalan. Aku tersadar, ada yang belum kulakukan. Aku belum memberi rehat untuk diriku.

Kuputuskan untuk berhenti sejenak, berhenti berpikir dan mendramatisasi, memberi waktu dan ruang untuk jiwa dan tubuh. Aku mencoba menerima apa yang telah terjadi dan mencoba tidak tersulut emosi. Satu hari, dua hari, tiga hari, hari-hari terus berlalu dan aku masih dalam proses untuk berdamai. Segala yang terjadi bukan salah siapa-siapa, bukan salahku, bukan juga salahnya, dan bukan pula salah mereka. Itu bagian dari hidup dan itu di luar kuasaku. Hingga pada saat itu, akhirnya aku tidak menyesali rentetan peristiwa itu. Sebaliknya, aku bersyukur dengan rentetan peristiwa itu karena telah membuatku merasakan hal-hal yang belum kurasakan sebelumnya, rentetan peristiwa itu membuatku menjadi seperti ini, mereka mendewasakanku. Ya, aku telah mengikhlaskan segalanya. Kini aku telah belajar apa itu berdamai, mengikhlaskan, bersyukur, dan menerima. Terima kasih karena telah datang dan menjadi guru hidupku.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top