Pelajaran di Giuffrida Park

Gambar: Fatimah Basharat

Masih di musim gugur, dan daun-daun terus berjatuhan di Amerika. Ini bulan kedua saya di kota kecil Hartford, Connecticut. Saya menikmati musim gugur kali ini dengan mendaki gunung, mendengarkan banyak podcast dan puisi, membaca buku, serta tentunya menunaikan banyak tugas dari kampus. 

Gunung, kini menjadi semacam tempat yang selalu ingin saya tuju. Sejauh ini, sudah ada tiga gunung yang saya daki di sekitar Connecticut. Dua gunung saya lupa namanya. Hanya satu yang saya ingat namanya, Talcott Mountain. 

Naik gunung, bagi saya, adalah cara untuk menyeimbangkan dari cukup padatnya kegiatan serta banyaknya “tekanan” yang saya alami. Setiap akhir pekan, saya selalu menyempatkan waktu untuk mendaki gunung, atau, melakukan aktivitas lain.

Tetapi, ada juga pengalaman yang berharga yang saya dapati ketika mendaki gunung. Ada satu gunung, yang bebatuannya bisa dibilang cukup banyak. Untuk mendaki gunung tersebut diperlukan kehati-hatian, taktik, dan tentu tenaga.

Ada perasaan lega ketika mencapai titik tertinggi dari gunung tersebut. Saya melihat danau kecil, pohon-pohon yang warnanya kini berubah menjadi orange. Di atas gunung tersebut, saya juga mengucap sebuah doa singkat. Setelah menghabiskan kurang lebih satu jam di puncak gunung tersebut, saya dan teman-teman segera bergegas pulang. 

Rupanya, meskipun selama ini saya telah mendaki beberapa gunung, saya tidak pernah menyadari bahwa pengalaman menuruni gunung juga cukup sulit. Kata teman saya, menuruni gunung bukan hanya sekadar membutuhkan tenaga, melainkan juga membutuhkan kontrol diri. 

Lalu, tiba-tiba saya berpikir bahwa untuk mencapai sesuatu dibutuhkan banyak usaha dan niat, dan ya: taktik. Namun, untuk merendah dan “turun menyapa” ke bawah bukanlah perkara yang mudah juga. Tidak semua orang bisa melakukannya. Kontrol diri, mengajarkan supaya tidak harus terburu-buru, dan juga kesadaran bahwa kita tidak ada apa-apanya. Tenaga dan niat, terkuras cukup banyak saat mendaki.

Terkadang, kita tak bisa hanya mengandalkan diri sendiri. Kita butuh pijakan kuat seperti batu, pohon-pohon kecil, atau akar-akar kayu. Semuanya bersatu padu menolong kita untuk Kembali ke tempat semula, menghantar kita kembali ke tempat yang kita sebut “rumah.”

Legah, sudah pasti. Gunung, mengajarkan hal penting.

5 2 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top