folder Filed in Sekitar, Yang Harus
Merayakan Perbedaan
Perbedaan sejatinya adalah sebuah anugerah. Pemberian Sang Pencipta yang harus dirayakan oleh seluruh ciptaan.
Imbran Bonde comment 2 Comments access_time 2 min read

Bukan sebuah rahasia lagi bahwa kebencian karena perbedaan kian meruncing. Pertikaian karena beda agama, adalah kisah yang terlalu sering didengar hampir setiap saat. Perbedaan pendapat, juga dalam banyak hal, berujung pada sebuah pertengkaran. Orang yang berbeda bahkan sering kali juga dijauhi, atau diserang dengan kalimat-kalimat yang ditambahi dengan kata “Tuhan.”

Apakah memang, berbeda itu salah? Tentu tidak. Saya tidak bisa membayangkan, jika di dunia ini, semua manusia sama. Sama wajahnya. Sama berat badannya. Pekerjaannya juga sama. Menggunakan pinggan yang sama saat makan. Baju dan warnanya juga sama. Wah! Akan menjadi sangat aneh, bahkan mungkin tidak menarik.

Perbedaan, sejatinya adalah sebuah anugerah. Pemberian Sang Pencipta yang harus dirayakan oleh seluruh ciptaan. Dendam dan perasaan tidak suka terhadap perbedaan, harus dikalahkan. Karena keinginan untuk mencinta dan berdamai dalam diri manusia itu ada. Seperti yang dituliskan oleh Sumanto Al Qurtuby dengan mengutip Thomas Hobbes, manusia tidak hanya “inherently violent dan aggressive” tetapi juga “intrinsictly peaceful.”

Mungkin, inilah saatnya, cara memandang seseorang “yang lain” dari diri kita harus diubah. Atau, istilah yang saya berikan tanda petik sebelumnya, kita ubah menjadi sesama manusia, karena kata “yang lain” membawa kepada sebuah makna yang jauh dari kemanusiaan itu sendiri. Yang pasti, sebelum melihat apa agama seseorang, apa pilihan politiknya, dari mana ia berasal, kita harus terlebih dahulu melihat bahwa ia seorang manusia. Sama seperti kita.

Ang Swee Chai, seorang Dokter yang besar dalam tradisi Kristen tetapi menjadi relawan untuk orang Palestina adalah contoh keberhasilan mengenai merayakan perbedaan. Dalam bukunya yang berjudul From Beirut to Jerusalem dan pernah diterjemahkan oleh penerbit Mizan, Chai menunjukan bagaimana melepaskan dugaan yang keliru terhadap sesama
manusia. Chai berhasil, ia memeroleh penghargaan. Hatinya lapang menerima perbedaan, bagaikan air yang murni ia memberi nadi kehidupan bagi sesama manusia.

Perbedaan sama seperti musik. Berbeda, namun menuntun dan menghasilkan sebuah paduan harmoni yang menggentarkan telinga dan sanubari. Inilah hidup dalam perbedaan, setiap hari jika dirayakan, ia akan menuntun pada sikap hati yang penuh bela rasa terhadap sesama tak peduli seberapa banyak perbedaan yang ada. Manusia tetap manusia, yang layak untuk mencintai dan dicintai oleh sesamanya. Bahkan, mengutip Y.B Mangunwijaya dalam bukunya, Burung-burung Manyar: “Betapa pun bejat atau gagal seseorang, ia berhak mempunyai pujaan hati.” Artinya, semua orang, siapapun dia, layak untuk dicintai.

Ada ruang untuk mencinta. Biarkan cinta itu bertumbuh lebih besar, mengalahkan rasa benci yang juga berpontensi untuk menang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment