Menumbuhkan Cinta dan Empati dalam Perbedaan

Dalam artikelnya yang berjudul “Interfaith Relations in Contemporary Indonesia: Challenges and Progress”, Hans Abdiel Harmakaputra memaparkan bagaimana tingkat intoleransi beragama di Indonesia. Dengan menggunakan data Christian Solidarity Worldwide (CSW) pada 2014, Harmakaputra menunjukkan bagaimana intoleransi tumbuh subur di Indonesia.

Bagi orang yang menjunjung perbedaan dan hibriditas, hal ini tentu menyedihkan. Sejak awal bangsa ini berdiri, keberagaman agama, suku, dan budaya, telah menjadi entitas kita: manusia Indonesia. Ada banyak suku, budaya, bahasa, dan agama yang belum tentu bisa tumbuh di negara-negara lain. Semuanya memiliki keindahan dan keunikannya masing-masing. Dalam hal itu, orang Jawa jangan dipaksa menjadi orang Minahasa atau Ambon. Demikian sebaliknya.

Lalu, mengapa intoleransi yang sebenarnya bukan hanya terjadi di Indonesia, berkembang begitu pesat? Banyak hal yang bisa menjadi penyebabnya. Satu di antaranya adalah minimnya perjumpaan dengan perbedaan-perbedaan yang ada. Selain itu, kurangnya empati dan cinta juga dapat menjadi faktor terjadinya intoleransi.

Sederhananya begini.

Apabila membaca buku populer atau penelitian ilmiah tentang konflik, kita akan menemukan banyak kisah tentang permusuhan yang berbau etnis dan agama. Misalnya, dalam tulisannya yang bertajuk Religious Violence and Conciliation in Indonesia: Christian and Muslim in the Moluccas (2016), Sumanto Al Qurtuby menuliskan bagaimana konflik terjadi di antara kedua kelompok agama. Tetapi, di saat bersamaan, Qurtuby juga menampilkan bagaimana orang-orang membangun perdamaian dengan menggunakan cinta dan empati.

Mengapa empati dan cinta?

Karena dengan empati, kita dapat merasa dan mengidentifikasi diri kita ke dalam perasaan dan pikiran orang atau kelompok lain. Sederhananya, lukamu adalah lukaku. Kegembiraanmu, juga adalah kegembiraanku. Itulah yang menggerakan Tim 20 Wayame di Maluku, untuk saling menjaga kedamaian saat konflik terjadi. Mereka tidak membiarkan saudara-saudaranya dilukai oleh siapa pun. Karena luka itu, adalah luka bersama.

Sedangkan cinta, yang sangat tidak mudah untuk diartikan ini, dan menurut saya biarlah tetap demikian dengan kemisteriusannya, memang dibutuhkan dalam laku hidup sehari-hari, khususnya dalam penerimaan terhadap keragaman. Bahasa cinta, hanya dapat dimengerti apabila seseorang telah mengalaminya; telah menghidupinya, dalam relasinya dengan orang lain. Orang yang dipenuhi cinta, tidak akan melihat perbedaan yang ada di sekitarnya sebagai ancaman. Sebaliknya, ia akan mencurahkan hidupnya untuk terus memeluk erat perbedaan tersebut, sebagai sesuatu yang tak bisa dielakkan, dan menjadikan sebagai “bahasa” sehari-harinya.

Kabar gembiranya, semua agama dan budaya yang saya jumpai, memiliki nilai-nilai dan ajaran untuk menghidupi empati dan cinta. Kita hanya perlu melakukannya.

5 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top