Menemukan Keagungan dalam Laku Hidup Sesehari

Sebagai manusia, kita sepertinya cenderung menunggu dan ingin merasa hal-hal yang agung nan megah, “wah”, dan spektakuler. Padahal, kita lupa dalam setapak sesehari, ada banyak momen indah, yang sayangnya sering kita abaikan, dan akhirnya berlalu. Tak terasa.

Saya pernah terjebak dalam situasi ini. Kala itu, saya adalah seorang guru di Papua. Setiap hari, saya mengajar di kelas dan terkesan semua yang saya lakukan baik-baik saja. Semua hak serta kewajiban saya lakukan dengan baik dan cukup teratur. Mengisi presensi, memeriksa tugas, menjelaskan materi, memberikan kelas tambahan, dan sederet aktivitas lainnya.

Namun, dalam hati, saya mendamba hal lain yang lebih “mentereng”. Setidaknya begitu kesan saya saat itu. Saya ingin menjadi scholars. Bisa meneliti, publikasi jurnal, mengisi seminar, dan mengajar di tempat bergengsi.

Akhirnya, semuanya menutup mata saya untuk menikmati keindahan di momen itu. Dan sayangnya, saya tersadarkan ketika sudah tak di sana lagi, bukan menjadi seorang guru lagi. Juga bukan seorang scholars.

Tapi, setidaknya saya bisa belajar dari hal tersebut, dan tak ingin mengulangnya lagi.

Saya menyesal, itu sudah pasti. Mengapa, saya tak seperti wanita yang dulu pernah dekat dengan hati ini, yang juga seorang guru di sekolah yang sama dengan saya. Ia memang mengidap penyakit yang cukup ganas, tetapi mungkin, itulah yang menjadi akselerator yang menggerakkannya untuk mengisi hidup dengan makna.

Ia menikmati semua momen yang ada, memberi semua yang ia punya. Bahkan, merelakan barang kesayangan, demi murid yang ia ajar. Meski saya tahu, saya tak harus membanding-bandingkan kisahnya denganku, namun darinya saya belajar. Karena kehidupanku harus terus berjalan, sambil mengubah sikap dan cara pandang.

Berbekal pengalaman, nasihat orang lain, dan juga sedikit bisikan wanita itu, saya menapaki jalan yang kini saya mulai juga dengan susah payah. Penyesalan dan kegagalan di masa lalu, dijadikan pengalaman berharga untuk tidak mengabaikan momen kini dan di sini. Saya sendirilah pada akhirnya yang harus menapaki jalanku.

Perlahan, saya menikmati dan mulai mengubah cara pandang mengenai hidup sesehari yang saya jalani. Bukan hanya sekadar aktivitas yang terkait dengan karier atau pekerjaan, tetapi juga hal-hal lain yang terkesan remeh-temeh.

Ketika sedang membaca, saya menikmati momen tersebut. Menghirup aroma buku, masuk dalam lautan aksara hingga terhanyut meski harus tetap terjaga untuk mencoba “bercumbu” dengan pemikiran penulis; menginterupsi hal-hal tertentu.

Ketika sedang makan, saya mencoba menikmati setiap kunyahan. Menghirup aroma nasi dan dedaunan yang sudah dimasak, sungguh sebuah “keagungan” yang selama ini, seolah tidak pernah saya alami.

Lebih jauh, kini, saya sedang belajar untuk menikmati setapak yang saya pilih: mengajar, belajar menulis, membuka taman baca di desa, dan juga menanam serta merawat tanaman. Saya tidak perlu meromantisasi hal ini, bahwa semua sudah terlalui dengan begitu indah dan sempurna seperti dua paragraf sebelumnya, tapi di sini dan kini, ketika saya sedang menulis, saya sedang berupaya menuju ke sana. Menikmati setapak demi setapak, dan berharap menemukan keagungan itu. Bukan hanya sekadar memperlama denyut jantung, tetapi memberikan sebuah pelajaran, bahwa hidup kaya dengan makna.

Saya juga bersyukur, semesta pernah menghadirkan seorang wanita yang memberi banyak pelajaran dalam hidupku. Wanita itu, kini juga menjalani setapak agungnya. Saya yakin dia menikmatinya, juga dalam embaranya ia tak sepi lagi. Seseorang telah menemaninya.

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top