Membincang Cinta di Kala Senja


Tampaknya, kata “cinta” telah membanjiri percakapan manusia sehari-hari. Dalam banyak kasus, kata ini bahkan semakin mudah diucapkan tanpa penghayatan yang serius. “Aku cinta kamu” kalimat itu, mungkin terlalu sering kita dengar juga mungkin terlalu mudah kita ucapkan. Bahkan, undangan pernikahan sering dibumbui “mantra” tersebut.

Tetapi, benarkah?

Rupanya, dalam perjalanan waktu, cinta yang terucap itu akan diuji oleh waktu. Ia sama seperti bunga, kata Jay Shetty. Saat kita menyukai bunga, kita akan memetik bunga tersebut. Tetapi saat kita mencintai bunga tersebut, kita akan merawatnya. Hasilnya, kita tahu bahwa bunga yang dipetik tersebut akan menjadi layu dan beberapa hari kemudian mungkin akan mati.

Sementara, bunga yang dirawat, kita bisa menikmati keindahannya dalam waktu lama. Orang yang betul-betul mencintai, ia akan mengerahkan semua upayanya untuk merawat cinta itu. Begitulah cinta menurut Shetty. Dan dalam hal ini, Shetty ada benarnya.

Selain pengalaman sendiri, saya juga melihat bagaimana “cinta” palsu itu membawa petaka. Bentuknya bukan hanya ditemukan dalam pasangan yang kasmaran, lalu satu di antaranya mengkhianati dan menghancurkan “cinta” yang sering diucap tersebut. Tetapi juga banyak konflik yang timbul karena ketiadaan cinta tersebut. 

Sementara cinta yang tak berhenti hanya sekadar kata, terus bertumbuh dan memberi hidup bagi orang yang melakukannya. Ia mengikat janji suci pasangan yang saling memberi hidup mereka, selamanya. Cinta itu jugalah yang membangkitkan gairah untuk berdamai, tak peduli sebanyak apa alasan untuk bisa membenci. Cinta itu tumbuh, demi merawat kehidupan yang sudah lama terjalin.

Sehingga, bagi saya, idealnya cinta itu memberi. Juga tak pernah berubah. Memberi dalam artian, ia merelakan dirinya untuk mengasihi apa yang secara alami bahkan tak pantas untuk dicintai. Di saat yang sama, kasih itu tak berubah oleh situasi apa pun. Tak bertambah saat lagi senang-senangnya, tak berkurang saat lagi benci-bencinya. Pemaknaan yang ideal ini, bahkan saya belum sanggup untuk melakukannya. Masih dalam proses belajar ke sana.

Bersyukur, sedikit gambaran tentang makna ideal dari cinta tersebut, saya lihat dan alami dalam kehidupan Papatua dan Mamatua (sebutan untuk kakak dari orang tua). Mereka mencintai hingga embusan napas terakhir mereka di bumi ini, yang adalah tempat persinggahan sejenak mereka. Karena dalam keyakinan saya, cinta itu terus ada, karena cinta itu lebih kuat dari maut.

*Keterangan gambar: foto pribadi Jumita Pramawati.

 

3 2 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top