Memberi Adalah Kepenuhan

Terkait berbagi dan memberi, saya ingin memulai tulisan ini dengan pengalaman saya dengan buku-buku.

Membeli buku dan melanjutkannya ke tahap membaca adalah sebuah pilihan dan juga perjuangan hidup yang mulia. Disebut mulia, karena banyak orang yang belum tentu menyanggupi atau menghabiskan waktunya hanya membaca buku. Apalagi di Indonesia yang katanya minat bacanya rendah. Membaca bukanlah sebuah kegiatan yang dianggap serius, karena konon kebudayaan kita dibentuk bukan dari membaca tetapi dari bercerita langsung. Padahal, para pendiri negara kita ini, adalah pembaca yang andal.

Bagi seorang yang mencintai buku, terkadang buku dianggap barang kesayangan. Tiap hari diamati dan diatur sedemikian rupa posisinya. Dijaga agar tidak sobek atau dicoret-coret. Bahkan, kalau perlu, ditaruh di tempat khusus, yang tidak bisa diakses oleh sembarangan orang. Tidak lupa, Instagram dan media sosial lainnya, dipenuhi dengan foto dan informasi tentang buku.

Kisah tentang mencari buku, juga merupakan kisah yang juga tak kalah seru. Mulai dari membeli di toko buku yang terkenal, belanja online, maupun toko-toko tertentu yang banyak tersebar sekarang. Kebiasaan ini, bagi sebagian orang, jangan pernah disamakan dengan kecanduan belanja barang-barang lain. Karena, dalam pandangan dan pembelaan para pencinta buku, buku barang yang berbeda. Buku untuk mencerdaskan dan tergolong positif. Meskipun faktanya, sistem pasar memandangnya sama saja.

Itulah pengalaman yang saya alami selama beberapa tahun belakangan. Kecanduan membeli dan membaca buku. Bahkan terkadang, sampai kalap. Lupa bahwa masih ada hal lain yang juga penting. Sama seperti “candu” yang lain, terkadang begitu sulit untuk dilepas, demikianlah terkadang saya rela memotong waktu yang lain, hanya untuk membaca. Saya memegang dalih bahwa: ini adalah hal yang positif. Namun benarkah? Entahlah.

Tetapi, akhir-akhir ini, saya mencoba membuat terobosan baru. Buku yang selama ini hanya saya nikmati secara pribadi, bagaimana jika itu dinikmati oleh orang lain. Akhirnya, saya mencoba membuka sebuah taman baca. Benar, meskipun taman baca tersebut belum bisa jalan sepenuhnya, namun saya merasa sangat senang dengan hal ini. Seorang teman, bahkan menawarkan untuk membuat acara pengumpulan buku. Ia berhasil mengumpulkan banyak buku.

Saya akhirnya berkesimpulan, bahwa hidup memang terus berkelanjutan. Dahulu, bahagia jika mengumpulkan buku untuk diri sendiri. Sekarang, melihat orang lain juga membaca buku merupakan sebuah kebahagiaan. Dan memang, hidup pada akhirnya mengajarkan, bahwa berbagi tidak akan menjadikan kita kurang. Semesta akan memenuhi sukacita itu, dengan caranya.

Saat ini adalah situasi yang baik untuk berbagi. Banyak orang yang mengalami dampak akibat wabah yang sampai tulisan ini saya tulis, belum hilang sama sekali. Banyak orang kesulitan mencari makanan. Bukan hanya karena banyaknya orang kehilangan pekerjaan, tetapi juga lahan untuk menanam, banyak dikuasai oleh pemodal.

Berbagi tidak harus menunggu kaya. Bagikan apa saja yang kita punya, untuk meringankan beban orang lain. Percayalah, ada sukacita yang tak ada tara menanti kita, saat hati kita lapang untuk berbagi.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top