Lahir dan Berjalanlah

Beberapa waktu lalu, saya bercerita banyak hal mengenai kehidupan dengan seorang teman. Pembicaraan kami, akhirnya mengarah pada kematian Ibunya. “Apakah kamu sudah berdamai dan menerima kenyataan ini?” Demikian tanyaku. Jawabannya singkat dan jujur: “Belum.”

Untuk teman tersebut, saya menulis.

Saya pernah di posisimu, meski pengalaman kita berbeda. Cinta dan kedekatanmu dengan Ibumu begitu mendalam. Saya tahu itu lewat ceritamu. Bahkan kalian, mungkin, telah bersatu dalam jiwa, meski dengan tubuh yang berbeda. 

Saya juga bisa sedikit merasakan betapa kau merindukannya, atau berharap ia akan terlahir kembali. Kau merindukan hangat bibirnya, karena bibir itu selalu memiliki rumah: keningmu.

Tetapi rupanya harapan itu tidak pernah terjadi. Maaf, saya tidak bermaksud menasihatimu, saya menuliskan tulisan singkat  ini, sebagai seorang teman, yang tak rela membiarkanmu berjalan sendiri.

Lahirlah kembali, teman. Ya, kau sendirilah yang harus terlahir kembali. Bukan lahir secara fisik, tetapi sikap dan sudut pandangmu yang terlahir kembali. Yakinlah, bahwa Ibumu, telah berada di suatu tempat yang indah, melampaui keindahan yang pernah kau dan juga aku pernah cumbui. Ia di sana.

Berjalanlah seperti biasa. Arungi cita dan cintamu yang juga membuat sukacitamu membuncah, meski kisah perih juga meninggalkan jejak.

Beberapa hari lalu, saya mengirim pesan kepadanya. Saya mengutip sebuah buku yang ditulis oleh Luis Palau, Where is God When Bad Things Happen?: Finding Solace in Times of Trouble (1999),

“He is very near to you right now, and He wants to restore your wounded soul.”

Ia membalas dengan emotikon hati.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top