folder Filed in Sekitar, Yang Harus
Hidupmu Berharga!
Kita hadir di dunia ini, karena kita istimewa. Kita diciptakan, untuk sebuah kisah indah yang harus kita jalani.
Imbran Bonde comment 11 Comments access_time 4 min read

Akhir-akhir ini, perhatian saya teralihkan tentang isu besar yang sedang marak terjadi di dunia: Suicide. Seperti orang yang baru bangun dari tidur panjang, saya baru menyadari, bahwa angka kematian akibat bunuh diri semakin tinggi. Semua berawal, ketika saya memutuskan untuk membaca buku Yuval Noah Harari, seorang sejarahwan yang kini menjadi pusat perhatian banyak orang. Dalam bukunya yang berjudul Homo Deus: A Brief History of Tomorrow, Harari menuliskan seperti berikut:

“In 2012 about 56 million people died throughout the world; 620,000 of them died do to human violence (war killed 120,000 people, and crime killed another 500,000). In contrast, 800,000 committed suicide, and 1.5 million died of diabetes. Sugar is now more dangerous than gunpowder.” 

Fakta lain dari apa yang dituliskan oleh Harari di atas, bahwa angka kematian yang disebabkan oleh orang lain seperti kejahatan dan perang, ternyata lebih rendah daripada bunuh diri. Mengagetkan sekaligus menyedihkan. Saya akhirnya penasaran dengan hal ini. Dengan berbekal kata kunci suicide, saya mulai menelusuri youtube untuk mendapatkan sedikit informasi mengenai hal ini. Hasil penelusuran ini, membawa saya pada sebuah video yang menampilkan seseorang yang juga sedang bergumul dan prihatin dengan tingginya angka bunuh diri. Video yang diunggah oleh TED tersebut, menampilkan seorang gadis yang bernama Steph Slack. Slack adalah satu dari sekian orang yang peduli dengan isu ini. Ia juga menceritakan, bahwa pamannya sendiri juga adalah orang yang telah memutuskan untuk melakukan bunuh diri. Tetapi, hal yang penting, dan yang akan menjadi fokus saya selanjutnya sama seperti yang diupayakan oleh Slack, apa upaya kita untuk mencegah bunuh diri? Selanjutnya, saya akan mencoba memberikan sedikit jawaban mengenai pertanyaan tersebut.

Menjadi Pendengar

Hari-hari ini, menjadi seorang pendengar itu sangat sulit. Kita cenderung lebih suka berbicara ketimbang mendengarkan. Kita lupa bahwa, seperti yang Paul Tillich pernah ungkapkan, “the first duty of love is listening.” Jadi, tugas utama dalam mencintai adalah mendengarkan. Orang yang berencana untuk bunuh diri adalah orang yang putus asa dan kehilangan harapan untuk hidup. Tidak ada lagi tempat yang nyaman bagi mereka untuk sekadar berteduh. Tidak ada lagi orang yang mau mendengarkan mereka. Mereka butuh direngkuh dengan cinta. Dan, cinta yang saya maksudkan, adalah mendengarkan mereka. Mendengarkan keluh kesah mereka. Mendengarkan getir dan rapuhnya hidup mereka. Kita mungkin akan berpikir, bahwa hal ini sepertinya tidak memiliki dampak apa-apa. Kita salah. Ketika kita bersedia mendengarkan orang lain, di sana terbuka sebuah ruang. Ruang penerimaan. Orang lain akan merasa bahwa dirinya diterima. Orang lain akan merasa bahwa masih ada orang yang menghargai mereka. Sebuah tempat berteduh dari begitu banyaknya kepenatan hidup. Seperti air yang mengalir dan butuh ruang untuk itu, demikianlah manusia butuh “sesuatu” di luar dirinya sendiri.

Kamu Berharga!

Penyebab seseorang memutuskan untuk bunuh diri memang begitu kompleks. Namun, salah satu hal yang menyebabkan orang mengakhiri hidupnya, karena menganggap bahwa dirinya tidak berharga. Untuk apa hidup, jika sudah tidak ada alasan untuk hidup, pikiran itu selalu datang. Hingga pada akhirnya, rencana untuk mengakhiri hidup akhirnya terlintas. Hal tersebut, saya ketahui ketika seseorang pernah menceritakan sebuah kasus yang pernah ia lihat di Amerika. Seorang anak memutuskan untuk bunuh diri, karena merasa dirinya tidak berharga lagi, tidak ada yang peduli terhadap dia. Yang menyedihkan dari kasus tersebut, sebelum bunuh diri, anak tersebut menuliskan keluh kesahnya dalam sebuah surat.

Kita tidak bisa menyelamatkan orang yang telah bunuh diri. Tetapi, kita masih bisa menyelamatkan orang yang ada di sekitar kita. Bahkan, tidak menutup kemungkinan, kita bisa menyelamatkan diri kita sendiri, dari hal ini. Langkah yang dapat kita lakukan, adalah perlu menyadari bahwa kita begitu berharga. Kita hadir di dunia ini, karena kita istimewa. Kita diciptakan, untuk sebuah kisah indah yang harus kita jalani. Kisah itu memang masih misterius, tetapi kita perlu menggapainya. Menjalaninya waktu demi waktu, sambil berpikir bahwa kita harus menyelesaikannya. Kerikil dan batu besar, mungkin akan menghalang, tetapi, kita harus berjalan dan merayakan hidup, sekarang dan di sini. Katakan juga hal ini, pada orang yang ada disekitarmu. Tutup dulu bukumu. Tinggalkan sejenak dulu gawaimu.

Lakukan sekarang!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment