Bunga Matahari dari Wanita Pakistan

“Dear Imbran, You are a great person. Stay the way you are.” Demikian isi sebuah pesan singkat dari seorang teman asal Pakistan, Fatima namanya. Dia menempelkan tulisan singkat itu di tangkai bunga matahari. Saya kemudian mengatakan, “Terima kasih. Saya menyukainya. Saya akan memberinya nama: Kierkegaard.”

Nama seorang filsuf kini menjadi nama bunga. Namun, bukan itu yang menjadikan saya begitu semangat menuliskan hal ini. Pertama, bagi saya, relasi dengan seorang Muslim, memang memberi banyak makna bagi saya. Saya seorang Kristen, lahir di Poso, Sulawesi Tengah, sebuah kabupaten yang pernah mengalami konflik antaragama. Rumah orang tua yang mengasuh saya dibakar sehingga saya bertumbuh menjadi anak yang selalu curiga terhadap agama Islam.

Namun, dalam perjalanan panjang sebelum saya datang belajar ke Amerika, saya mengalami pemulihan yang sangat serius. Saya tidak bisa menuliskan hal itu secara lengkap di sini, tapi yang pasti pengalaman saya sejauh ini telah menjadikan saya belajar, bahwa anggapan saya sebelumnya sangat keliru.

Sehingga, bunga dari teman sekelas saya ini, memberikan sebuah makna tersendiri bagi saya. Pertama, saya belajar bahwa manusia tidak bisa hanya dipandang dari agamanya. Semua kita sama. Fatima membuktikan itu. Hatinya luas dan dipenuhi cinta. Dia memberikan bunga kepada semua teman sekelasnya. Ia menunjukkan dengan sikapnya, apa arti menjadi manusia yang beragama.

Lalu, yang kedua, kata-kata singkat itu memiliki arti penting bagi saya. Saya mengalami banyak kisah sedih dalam hidup. Saya punya banyak mimpi dan ide, tapi saya sadar betul untuk mewujudkan itu semua bukanlah hal yang mudah, apalagi saya hanyalah anak desa, demikian selalu pikir saya. Namun, kata-kata itu, seperti memberi keberanian bagi saya untuk tetap melanjutkan itu semua.

Kata-kata itu, singkat dan sederhana. Namun, itu seperti memberi energi bagi saya untuk melangkah.

4 5 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top