Bekalmu di Ruang Gelap

Awal tahun 2020, saat pandemi pertama melanda Indonesia, saya benar-benar sedang kebingungan. Setelah gagal melamar pekerjaan di Jakarta, muncul ide untuk pulang kampung dengan tujuan membangun pondok baca. Meski punya rencana untuk membuka pondok baca di kampung, saya tetap saja meragu. Di Jakarta saya membatin, dari mana saya memperoleh uang membangun itu semua.

Akhirnya, setelah melalui perjalanan kapal selama hampir seminggu, saya tiba di Makassar, sebelum besoknya melanjutkan perjalanan ke Poso, Sulawesi Tengah, kampung halaman saya. Beberapa hari pertama, saya betul-betul menikmati percakapan dengan keluarga, teman, dan sanak saudara. Namanya juga melepas rindu dengan kampung halaman. Namun, selang tiga minggu kemudian, perasaan gundah mulai muncul. 

Saya merasa seperti tidak berguna, dan hanya menjadi beban keluarga. Rencana membangun pondok baca hanya indah sebatas pikiran. Membangunnya, serba bingung, dan sepertinya tidak mungkin. Belum lagi, bisik-bisik tetangga mulai bermunculan. Menjadi pengangguran, secara bersamaan menjadikanku bahan gosip dan cemooh tetangga. 

Namun beberapa teman, mendorong saya untuk berani melangkah. Setelah berjuang selama hampir tiga bulan menggalang dana, mengumpulkan buku, dan membangun pelan-pelan, akhirnya wujud dari pondok baca mulai kelihatan. Meskipun begitu, cemooh yang sikapnya sembunyi-sembunyi tetap mengaung, atau bahkan ada yang secara langsung. Pondok baca memang dibangun bertahap sehingga ketika semuanya belum rampung, penampakannya agak aneh, dan hal itulah yang menjadi olok-olok beberapa orang. 

Setelah semua rampung, baru cemooh berhenti pelan-pelan. Namun, bukan berarti semuanya berjalan mulus. Proses antar jemput peminjaman buku dan membuka kursus di desa lain terhambat oleh transportasi. Saya ingat persis, betapa saya harus menebalkan muka untuk meminjam kendaraan orang. Awalnya memang lancar-lancar saja, namun lama-kelamaan jadi masalah juga. Kadang-kadang, masih proses pengantaran, saya sudah ditelepon supaya mengembalikan kendaraan dengan suara yang sedikit meninggi. 

Sempat ingin berhenti dan mencoba melamar pekerjaan lain, namun semua lamaran itu ditolak atau tidak direspons sama sekali oleh pemberi pekerjaan. Saya melamar pekerjaan, bukan semata-mata karena perkara ketiadaan kendaraan. Melainkan, karena sempat timbul dalam pikiran bahwa apa yang saya jalani di waktu itu hanya buang-buang tenaga, juga tidak membawa untung. 

Saya juga menyadari bahwa mengabdi kepada masyarakat selalu berujung pada perasaan-perasaan seperti merasa sendiri, kurang dukungan, dan kurang dimengerti oleh lingkungan sekitar. Tetapi, di masa-masa rapuh tersebut, saya terus didukung oleh mentor saya dan beberapa teman-teman. Di sinilah pentingnya sebuah pertemanan dan lingkungan yang mendukung.

Lalu, pada suatu hari, ketika saya sedang menemani kakak di pasar tradisional, saya dikejutkan dengan sebuah pesan masuk: kiriman sejumlah uang yang cukup untuk membeli kendaraan. Hingga sekarang, saya tidak tahu siapa pengirim uang tersebut. Yang pasti, mentor saya bilang, beberapa hari sebelumnya, ia mengirim informasi tentang pondok baca kepada beberapa orang rekannya, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. 

Setelah itu, semua program pondok baca dapat berjalan dengan baik. Bukan hanya sekadar itu, setelah pondok baca beroperasi selama beberapa bulan, sebuah kabar baik lain dari Amerika Serikat akhirnya datang. Lamaran beasiswa saya diterima.

Meski cukup sedih harus meninggalkan pondok baca, namun melanjutkan studi master di Amerika Serikat, akan sangat menolong bagi program-program di pondok baca ke depan. Di Hartford, Connecticut, saya juga mengenal banyak teman-teman baru entah di kampus atau di luar kampus. Banyak hal yang saya pelajari di sini, entah itu sistem pendidikan yang cenderung memberi kebebasan bagi pelajar untuk mengeksplorasi ataupun belajar tentang culture orang Amerika Serikat. Misalnya, di bulan November kemarin, saya dijamu oleh keluarga dosen saya saat perayaan Thanksgiving. 

Saya tidak punya ruang untuk menceritakan secara panjang pengalaman saya sejauh ini. Poin saya adalah terkadang hidup memang akan membawa kita pada ruang-ruang gelap. Namun, ada waktunya, cahaya akan datang menghampiri. Cahaya itu memang tidak akan kekal. Namun, setidaknya itu cukup untuk menjadi bekal kita memasuki ruang-ruang gelap yang bisa datang tidak terprediksi.

Hidup tak selalu indah. Hidup juga tak selalu buruk. Keduanya berjalin-kelindan. Beranilah memeluk sesuatu yang tak terpediksi itu, jangan terlalu percaya bualan kosong pencerita indah. Jangan juga terlalu larut dalam kepedihan dan meratapi diri.

5 3 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top