Amastarike Aramaten Manialup: Menjadi Cahaya bagi Orang Lain

27 September 2020, saya berkomunikasi dengan Amastarike Aramaten Manialup di London, Inggris. Ia tahun ini berkesempatan belajar di Inggris. Sebuah pencapaian yang ia capai dengan tidak mudah.

Saya hanya ingin bertanya, apa makna kesuksesan dalam hidup menurut dia, di usianya yang masih tergolong sangat muda.

Lalu, gadis asal Sulawesi Utara tersebut menjawab, “Menjadi cahaya bagi orang lain.” Ia juga menambahkan, “Menjadi cahaya dan berguna bagi orang lain, tak perlu menunggu menjadi sempurna. Bisa dimulai dari hal-hal yang sederhana.”

Indah.

Masta, demikian nama panggilannya, juga turut prihatin dengan beberapa orang yang tidak memiliki kesempatan untuk mengakses pendidikan. Itulah sebabnya, ia mau melakukan sebuah langkah kecil dengan turut mengampanyekan semangat membaca yang dilakukan oleh Pondok Baca Rodo nDaya di Kabupaten Poso.

Saya suka jawaban dan langkah kecil yang sudah ia buat. Karena dewasa ini, kecenderungan hidup selalu mengarah pada kepentingan diri sendiri. Jika tidak menguntungkan bagi diri sendiri, kenapa harus buang-buang waktu dan sumber daya lain. Makna hidup, diartikan hanya sebatas pada kepuasan diri sendiri, yang sebenarnya semu. Hampa.

Rupanya, dari miliaran umat manusia yang mendiami bumi, masih ada orang yang memaknai makna kesuksesan adalah menjadi “cahaya” bagi orang lain. Menjadi cahaya, bisa diartikan menjadi banyak hal. Menerangi hidup orang lain, supaya mereka dapat melihat jalan, agar sampai pada titik yang ingin dicapai. Atau, mencapai itu bersama-sama, dengan seberkas cahaya yang dimiliki.

Memang, kadang-kadang, cahaya itu bisa redup oleh gangguan dari luar atau bisa karena kecerobohan diri sendiri, terkadang bahkan harus mati total. Namun, keputusan tetap dikembalikan ke tangan Si Pembawa Cahaya, apakah harus berusaha menghidupkan kembali, atau berhenti sama sekali.

Namun, bagi orang yang berjiwa besar, ia tetap akan memilih untuk tetap menjadi cahaya. Membuat cahaya itu lebih bersinar lagi, melupakan kata pulang, sebelum dahaganya puas melihat orang lain telah sampai pada tujuan. Sampai bersama-sama.

Pada akhirnya, jawaban Masta, memampukan saya untuk melihat dan memaknai diri sendiri. Sudahkah saya menjadi cahaya? Atau, hanya indah di atas kertas, ketika saya menuliskan banyak hal.

Tuhan dan semesta yang akan menuntun, juga tahu jawabannya.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top