Tersesat dan Menemukan

Sejak kecil aku banyak menghabiskan waktu untuk mengejar segala sesuatu demi mendapat validasi, pujian, dan penghargaan. Hal ini bukan tanpa alasan. Di usiaku yang masih belia, aku sudah pernah dihadapkan dalam situasi yang tidak menyenangkan; hasil usahaku jarang diapresiasi dan hidup dalam bayang-bayang nama orang tua membuatku tidak pernah dilihat sebagai diriku sendiri. Alhasil, aku tumbuh dengan pemahaman bahwa aku harus membuktikan kepada orang-orang di sekitarku bahwa aku tidak seperti yang mereka bayangkan. Bahwa aku mampu memperoleh prestasi dari hasil jerih payahku sendiri.

Tenggelam dalam ambisi duniawi yang sering kali tidak sesuai ekspektasi sungguh melelahkan. Ketika gagal, aku selalu terjebak dalam keterpurukan dan menyalahkan diriku sendiri. Perlahan-lahan aku sadar bahwa ambisiku tidak membuatku menjadi pribadi yang lebih baik; justru sebaliknya.

Setelah menamatkan bangku SMA, aku pun memutuskan untuk keluar dari rumah. Melepas segala kenyamanan yang ada dan menukarnya dengan sebuah tiket perjalanan panjang menuju belantara kehidupan baru. Tidak ada ketakutan dalam benakku saat itu, keputusanku bulat; aku harus meninggalkan rumah dan memulai segala sesuatunya dari awal. Di kota pelajar, aku menjatuhkan pilihan untuk berpetualang hingga menemukan apa arti “pulang”.

Menjejaki fase baru dalam hidup tidak pernah menjadi mudah, terlebih aku bukan orang yang cepat beradaptasi dan senang beramah-tamah. Namun keadaan memaksaku untuk meninggalkan jati diriku yang lama, karena di sini segala sesuatunya jauh berbeda. Aku belajar membaur dengan wajah-wajah yang asing, menyatu dengan berbagai dialek, bahasa, dan budaya dari seluruh wilayah nusantara. Berbagi senyum dan sapa, bertukar tanya tanpa rasa canggung, dan saling memberi uluran tangan. Ternyata, keadaan tidak sesulit yang aku bayangkan. Tidak perlu waktu lama bagiku untuk menemukan kenyamanan baru.

Pada mulanya, semua kenyamanan itu terlihat baik-baik saja. Hingga aku sampai pada satu titik jenuh yang membuatku tersadar akan sebuah fakta; bahwa terjebak dalam zona nyaman membuatku terlena dengan segala sesuatu yang sudah ada. Aku enggan beranjak untuk belajar hal-hal lain karena merasa cukup dengan apa yang kumiliki. Padahal, masih panjang belantara kehidupan yang harus kususuri. Maka dengan segenap keyakinanku, aku kembali pergi meninggalkan zona nyaman yang telah kutemui.

Aku sempat tersesat dan kehilangan arah. Pada titik-titik tertentu, hidup seolah mengimpitku dan memaksaku untuk menyerah dan menghentikan langkah. Satu per satu kawan selama perjalanan menghilang, menyisakan satu dua orang saja yang masih setia menjadi teman berbagi kala meniti kehidupan. Kesedihan, kehilangan, dan kekecewaan menjadi batu pijakan bagiku untuk tumbuh menjadi manusia yang lebih kuat lagi. Selebihnya, kupasrahkan segala usaha yang telah dikerah kepada Sang Pemilik Kehidupan.

Terbentur, terbentur, terbentuk.

Dari segala aral dan terjal yang telah kulalui, aku menemukan banyak pemahaman tentang hidup. Bertemu dengan banyak orang baru, mendengarkan berbagai cerita dari banyak sudut pandang membuatku belajar untuk lebih bijaksana dalam memaknai kehidupan. Perlahan-lahan, kutinggalkan satu per satu pemahamanku tentang kehidupan yang dulu. Bahwa untuk menjadi diri sendiri tidak perlu pembuktian dari orang lain; aku tidak perlu membuktikan diriku kepada siapa-siapa, dan untuk setiap keputusan dalam hidup aku adalah pemegang kendali utamanya. Aku tidak perlu membandingkan pencapaianku dengan orang lain, tidak perlu menyamakan langkah dengan siapa pun, dan tidak perlu merasa harus lebih unggul dari siapa pun. Aku adalah pemenang dari diriku sendiri. Dan tidak ada satu pun yang sepadan untuk dibandingkan dengan diri ini.

Aku berterima kasih kepada diriku yang tidak menyerah sampai saat ini; terima kasih telah bertahan melalui segala rintangan dan bangkit dari keterpurukan. Aku pun tidak akan ada di posisi ini tanpa bantuan orang-orang di sekitarku; yang tidak lelah mengulurkan tangan dan menyediakan pundak saat aku kehilangan sandaran. Dan tak lupa, terima kasih kepada kota pelajar yang banyak memberiku kenangan dan pelajaran berharga.

Kini, aku tidak lagi menyesali segala keputusan yang pernah kuambil. Semua keputusan itu yang membawaku menjadi diriku saat ini. Mungkin aku belum sepenuhnya menjadi versi terbaik dari diriku, dan aku akan selalu berusaha untuk itu. Meskipun harus kembali melalui aral dan terjal, menghadapi kegagalan dan kekecewaan; aku hanya perlu terus berjalan dan bangkit dari keterpurukan.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top