Tentang Hidup

Pagi tadi ia bertamu, kusambut datangnya dengan senyum hangat dan sebuah peluk di depan pintu. Namun keesokan paginya, ia pergi tanpa mengucap sepatah kata pamit untukku. Pagi-pagi setelahnya kuhabiskan dengan menunggunya di teras rumah, menyediakan secangkir teh dan pelukan hangat yang tak kunjung menemukan tuannya. Meski tau hal itu akan terjadi, rupanya aku tak juga siap untuk menghadapi kehilangan berkali-kali. Setiap yang datang pasti pergi dan yang singgah akan berganti. Namun, apakah semua yang dinanti akan selalu menemukan jalan untuk kembali? 

Musim terus menua bersamaan dengan tahun yang berganti angka. Harapan itu perlahan-lahan gugur karena tak jua menemukan suakanya, berganti dengan pemahaman-pemahaman baru yang tumbuh dari kesedihan, kekecewaan, dan pengkhianatan. Rupanya hidup tak hanya mendewasakanku dengan hal-hal manis, tapi juga memberikan banyak pelajaran baru dari hal-hal yang terlihat bengis. 

Doa-doaku kini telah bertransformasi menjadi banyak hal yang menjelma pelajaran dan jawaban. Namun pertanyaan-pertanyaan di kepalaku tak henti bertumbuh, mengakar, dan terus merambatkan cabang. Semakin dewasa, aku semakin merasa belum mengetahui apa-apa tentang kerasnya dunia. Aku semakin sering menghitung pelajaran dari tahun-tahun ke belakang agar pergantian usia tak hanya jadi sekadar angka. 

Terkadang rencana yang telah kurancang sedemikian rupa harus berakhir jadi sekadar wacana. Seringnya, hidup membawaku pada jalan-jalan tak terduga yang belum pernah kupetakan sebelumnya; memaksaku untuk memahami takdir seperti membaca sebuah peta buta, serta bergelut dengan banyak hal-hal di kehidupan nyata yang tak sesuai dengan ekspektasi di kepala; mempertemukanku dengan berbagai karakter manusia untuk belajar menghargai perbedaan yang ada; menuntunku pada banyak cerita baru dari mereka yang menetap atau sekadar singgah untuk berbagi rasa. 

Dari daur hidup yang kujalani saat ini, aku sadar bahwa belajar tak selalu tentang mengingat atau menghafal materi, tapi juga melupakan dan mengikhlaskan mereka yang telah pergi; bahwa banyak orang-orang yang singgah di hidupku hanya untuk memberiku secarik pelajaran, bukan untuk menjadi sebuah pemberhentian.

Dari hidup, aku belajar untuk merasa cukup dengan apa-apa yang ada dalam genggaman, tanpa harus merasa sombong di atas peluh keringat perjuangan; bahwa kehidupan adalah tentang memaknai setiap pahit dan manis yang datang silih berganti. Hidup mengajarkanku untuk terus berjalan; bukan berlari, untuk terus membaja; dan tetap bersahaja. Dan dari hidup, aku belajar bahwa siklus ini akan terus berjalan; hingga waktuku habis dan menyentuh titik keabadian.

4.8 5 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
3 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Afrija
Afrija
1 month ago

Semua tulisannya menarik, Kak. Di mana tempat yang buat saya bisa baca tulisan lainnya?

iin isnaini
iin isnaini
1 month ago
Reply to  Afrija

Halo, terima kasih sudah membaca 🙂 untuk beberapa tulisan saya yang lainnya bisa ditemui di iinisnainii.medium.com ya. Sekali lagi, terima kasih!

Laskar Pena
3 days ago

Tulisan tulisan seperti ini dan yang ada di blog menjadi manusia, memang harus terus ada. Mencerahkan pembaca

Top