Sebuah Senandika

Senja jatuh di pelukan gedung-gedung pencakar langit yang berdiri angkuh. Malam melelapkan bising kota yang tak pernah sudi mendengarkan segala keluh. Hari ini, hujan tak singgah menyapa jalan-jalan arteri yang sibuk dijajah oleh para pemburu waktu. Tak ada alasan untuk bangun lebih lambat atau mengeratkan selimut rapat-rapat. Musim seolah masih berusaha membaca isyarat alam yang berkecamuk tak menentu, setelah kemarau panjang berlalu musim penghujan datang walau masih enggan dan malu-malu. Terkadang ia datang tiba-tiba dan pergi begitu saja seperti sedang berusaha membiasakan diri dengan perubahan yang ada. Namun, satu yang tak pernah berubah; rembulan yang setia menghiasi langit kota walau tanpa kerlip bintang di sampingnya.

Setiap hari, kota merekam kisah yang terjadi dalam sebuah puisi yang hanya mampu dibaca angin. Kala tahun berganti, satu per satu kesedihan ditanggalkan oleh doa-doa baik yang melangitkan amin. Para petualang yang lelah mencari memutuskan untuk kembali pada mereka yang terkasih. Pada akhirnya mereka tau bahwa sejauh apa pun kaki melangkah, rumah adalah tempat segala rindu bermuara.

Kala penghujung tahun telah tiba, manusia sibuk menghitung segala kenangan yang telah habis tak bersisa. Menyisihkan setitik ketakutan yang selama ini tersembunyi di sudut kepala dan menunggu waktu untuk muncul ke permukaan.

Akankah tahun yang akan datang menjadi lebih baik dari sekarang?

Akankah perubahan membawa kembali apa-apa yang dikira telah pergi setelah benar-benar menghilang?

Ah, kita terlalu takut menghadapi kepergian hingga lupa bahwa akhir selalu menuntun kita pada sebuah awal perjalanan baru. Terlalu asyik berkubang dalam kenyamanan yang fana dan enggan memercayai realita karena tak pernah sejalan dengan harapan di kepala. Kita terlalu egois untuk mengakui bahwa sebenarnya selama ini kita yang tak pernah bisa menaklukkan ekspektasi sendiri. Terkadang hidup memang terlampau getir, bukan? Lantas, pembelaan apa lagi yang kauperjuangkan untuk membungkusnya menjadi sesuatu yang tampak menyenangkan?

Tak perlu membohongi diri dengan kalimat-kalimat manis yang terdengar miris. Sesekali kau perlu mencecap perih seutuhnya agar tau bahwa hidup tak selalu menyediakan bahagia saja. Segalanya sudah menjadi sebuah kesepakatan sejak awal, sebuah harga mati yang tak akan pernah bisa ditawar; bahagia dan derita, tangis dan tawa. Kita tak perlu memisahkan keduanya. Kita boleh menertawakan kesedihan saat derita tak mampu lagi diurai oleh air mata. Kita boleh merasa menderita walau telah melakukan segala cara untuk tetap terlihat bahagia.

Yang ingin kukatakan sebenarnya adalah: terkadang hidup memang terlampau sialan. Maka tertawalah, menangislah, rayakan setiap kesakitan selayaknya kau menjamu tiap bahagia yang datang. Seperti utang, kesedihan juga harus dibayar dengan sesuatu yang seimbang. Tak perlu merasa lemah untuk menangisi kegagalan atau kepergian; kesedihan pantas dirayakan dengan cara-cara yang manusiawi tanpa harus merasa rendah atas diri sendiri.

4.3 3 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Dwi
Dwi
1 month ago

Aku menyukainya

Top