Sebuah Pelajaran Berharga

Sudah tiga bulan belakangan ini aku mengamati kegiatan seorang wanita tua yang bekerja sebagai pemulung di sekitar kompleks tempatku tinggal. Setiap pagi aku sering kali melihatnya berangkat dengan membawa karung dan sebuah kayu pengait di tangannya. Tanpa rasa jijik, ia mendatangi satu per satu tempat sampah di tiap-tiap rumah. Dengan tangannya yang sudah keriput itu beliau mengais-ngais plastik bekas minuman atau kaleng-kaleng bekas. Ketika sudah mendapat apa yang dicari, maka beliau kembali berjalan menuju tempat sampah yang lain, begitu setiap hari. Awalnya aku merasa kasihan, di usianya yang sudah renta, beliau harus berjuang sendirian menyambung hidup dengan memulung. Tapi lama-kelamaan aku menjadi kagum terhadapnya karena beliau terus berusaha untuk bekerja semampu yang ia bisa.

Saat malam datang, aku sering melihat beliau sedang duduk menyandarkan diri di gerobak yang berisi kardus-kardus bekas. Matanya menatap kosong ke arah jalanan yang dipadati oleh kendaraan bermotor dan mobil angkutan kota. Pernah ketika aku pulang larut malam, aku melihat beliau tertidur di samping gerobaknya. Di atas rumput di pinggiran trotoar jalan, ia meringkuk dengan selembar kardus bekas sebagai alas tidurnya. Matanya terpejam, seolah suara bising dari kendaraan di sekitarnya sama sekali tidak mengganggu lelap tidurnya. Bahkan dinginnya angin malam seolah tidak mengusiknya, walau hanya mengenakan baju yang aku yakin tidak cukup tebal untuk menghalang angin malam yang menusuk.

Pada suatu pagi, aku memberanikan diri menyapa beliau yang sedang mengais-ngais sampah di depan rumahku. Beliau tampak ragu-ragu menatapku, mungkin merasa asing. Padahal aku sudah sering kali melihatnya mondar-mandir di sekitaran kompleks. Maka dengan bermodal sekotak nasi, aku mengajak beliau untuk menemaniku sarapan. Awalnya beliau merasa sungkan menerima ajakanku, mungkin takut jika dilihat oleh penghuni kompleks yang lain. Namun aku akhirnya mampu mengajaknya untuk duduk dan berbincang-bincang. Kami duduk di teras rumahku. Sambil memakan nasi kotak pemberianku, beliau mulai menceritakan perjalanan hidupnya.

Ibu tua itu hidup seorang diri. Sepeninggal suaminya, ia harus berjuang sendirian untuk bertahan hidup. Lima tahun lalu anak satu-satunya pergi merantau ke ibu kota untuk mencari pekerjaan. Namun, tahun demi tahun yang dihabiskan menunggu kabar dari sang buah hati, hanya sebuah kekecewaan yang ia dapatkan. Tiga tahun setelah sang anak pergi merantau, suaminya meninggal.

Sang suami mengidap kanker paru-paru yang baru terdeteksi setelah penyakit itu semakin menggerogoti tubuhnya. Penyebab utamanya adalah polusi udara dan asap rokok yang sudah menjadi makanan sehari-hari bagi seorang supir angkutan umum sepertinya. Ketika melihat suaminya terbaring sakit, beliau hanya bisa terus berdoa berharap kesembuhan agar sang suami dapat kembali sehat dan bisa kembali bekerja untuk menyambung hidup. Karena keterbatasan biaya, beliau hanya mampu membelikan suaminya obat-obatan dari warung yang ala kadarnya. Akhirnya setelah setahun melawan penyakit, sang suami wafat.

Tidak mau berlama-lama larut dalam kesedihan, beliau akhirnya mencoba menjalankan kembali roda kehidupannya seorang diri. Mulanya beliau bekerja sebagai buruh cuci serabutan. Namun belum genap setahun menjadi buruh cuci, ia dituduh mencuri pakaian milik tetangganya. Orang itu menuduh beliau yang mencuri pakaian-pakaian yang sedikit demi sedikit menghilang. Sudah berkali-kali beliau menjelaskan dan berkali-kali pula ia menerima cacian dari orang itu. Bukan hanya dari majikannya, tapi seluruh tetangganya kini menganggap beliau orang yang tidak tahu diri. Beliau pun dikucilkan di lingkungan tempat tinggalnya. Maka dengan berat hati, beliau memutuskan pindah dari rumah kontrakannya ke sebuah gubuk tua yang dibangun sendiri. Gubuk itu tidak besar. Dindingnya terbuat dari kardus-kardus bekas yang disusun sedemikian rupa. Nahas, baru enam bulan tinggal di sana, gubuk itu sudah dihancurkan oleh aparat saat penertiban bangunan liar.

Tanpa terasa air mataku turun saat beliau berhenti sejenak dari ceritanya. Beliau yang melihatku menangis langsung merasa bersalah,

“Duh, si Neng kenapa nangis? saya teh jadi enggak enak.”

Aku hanya menggeleng pelan dan memintanya untuk kembali melanjutkan cerita.

Maka setelah itu, beliau resmi menjadi seorang tunawisma. Dengan sisa-sisa asa, beliau terus bertekad untuk melanjutkan hidupnya. Tidak ada kata menyerah, selagi bisa, apa pun akan dilakukan untuk menyandang hidup seorang diri. Maka sejak saat itu, beliau bekerja sebagai pemulung hingga saat ini. Sempat aku bertanya, mengapa beliau tidak mengikuti jejak seperti para kebanyakan tunawisma yang menjadikan mengemis sebagai mata pencaharian hidup. Beliau lantas menjawab,

“Derajat saya sudah rendah, Neng. Cuma orang pinggiran yang enggak punya apa-apa. Tapi saya enggak mau berputus asa, saya masih punya fisik yang kuat buat bekerja, kenapa harus meminta-minta?”

Jawaban yang membuatku makin kagum dengan ketegarannya menjalani hidup. Meskipun sehari-harinya beliau kesulitan mencari nafkah, bahkan sering kali hanya mampu mengisi perut dengan air mentah dari keran musala tempatnya singgah. Hanya demi mengganjal perut, beliau rela memakan makanan sisa yang sudah dibuang. Selama masih bisa dimakan, maka beliau tak segan-segan menghabiskannya. Beliau tak malu menyentuh sampah-sampah kotor itu setiap hari, asalkan bisa menemukan beberapa barang yang bisa dijual kembali. Pun ketika malam datang, beliau tidak pernah mengeluh meski angin malam menusuk pori-pori kulitnya, meskipun suara bising kendaraan menjadi lagu pengantar tidurnya.

Nasi kotak pemberianku sudah habis ketika beliau menyelesaikan ceritanya. Ia nampak tersenyum walau aku tau, dalam hatinya begitu terluka menceritakan kembali pengalaman pahit itu. Beliau kemudian pamit dan mengucapkan begitu banyak terima kasih. Setelah kepergiannya, aku mematung di teras rumah sambil merenungi cerita hidupnya.

Hidup yang dijalani tidaklah mudah, bahkan jauh dari kata bahagia. Namun beliau tidak pernah menyalahkan Tuhan atas segala yang menimpanya, tidak pernah mengeluh akan kesulitan demi kesulitan yang terus menghampirinya, meski setiap hari beliau menyadari hidupnya tidak akan pernah kembali sebahagia dulu. Beliau hanya memandang hidup sebagai suatu proses yang harus diterima dengan lapang dada.

Aku berkaca kepada diriku sendiri. Sehari-harinya, aku kerap kali mengeluh akan masalah-masalah sepele yang aku hadapi. Sering kali cepat putus asa saat cobaan-cobaan tak henti-hentinya datang. Aku sering lupa bersyukur dengan apa yang masih aku miliki sekarang, terlalu sibuk melihat ke atas sampai lupa bahwa masih ada orang lain yang menginginkan posisiku saat ini; hidup berkecukupan, dikelilingi orang-orang terkasih, dan kebahagiaan yang melingkupi. Dalam hati, aku mengucapkan begitu banyak terima kasih kepada beliau karena telah mengajarkanku banyak pelajaran hidup yang tak ternilai harganya, tentang kesabaran, ketegaran, dan kegigihannya dalam menghadapi ujian dan rintangan, tentang semangat hidupnya yang tak pernah padam walau realita terasa begitu kejam.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top