Remedial

Saat duduk di bangku sekolah dasar, saya beberapa kali mengikuti seleksi menuju perlombaan. Namun selalu berakhir gagal saat babak penyisihan. Nilai yang saya dapatkan sering dibilang hasil kasihan. Pun ejekan dari orang-orang di sekitar membuat saya tumbuh menjadi seseorang yang selalu merasa kurang. Kurang cantik, kurang pintar, kurang bergaul, dan kurang-kurang yang lainnya. Pemikiran itu terus berkembang dan menjelma menjadi sebuah momok dalam diri. Akibatnya, meskipun sudah berusaha yang terbaik saya masih saja merasa kurang dengan pencapaian sendiri. 

Namun lama-kelamaan saya tersadar, bahwa perasaan ‘kurang’ itu hanya ilusi yang diciptakan oleh pikiran saya sendiri, sesuatu yang terus menghambat saya untuk tumbuh dan berjalan lebih jauh lagi. Perlahan-lahan, saya pun berhenti untuk mendengarkan rasa tidak percaya diri dalam kepala saya. Saya mulai berdamai dengan kegagalan dan menjadikannya sebagai pijakan untuk terus bertumbuh. Saya belajar menghargai sekecil apa pun pencapaian yang dimiliki dan tidak lagi membandingkan diri dengan orang lain.  

Nyatanya proses mencintai diri sendiri tidak semudah yang dijual kata-kata motivasi. Sampai saat ini, saya pun masih sering merasa rendah diri dan terjebak dengan ilusi ‘kurang’ yang ada di kepala. Jika mencintai diri sendiri adalah sebuah ujian, maka saya dipastikan rutin menjalani perbaikan. 

Yang saya pelajari dari proses ini adalah bagaimana saya menerima semua kekurangan dalam diri, alih-alih menjadikannya sesuatu yang harus dimusuhi. Sebab kesempurnaan hanyalah sebuah fatamorgana semata karena setiap manusia memiliki kekurangan dan kelebihan yang berbeda-beda. Untuk itu, saya berhenti mengejar kesempurnaan dan mulai mencintai kekurangan yang ada. Sebab kesempurnaan yang sesungguhnya adalah ketika kita mampu mencintai ketidaksempurnaan dalam diri kita.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top