Persimpangan

“Jadi aku orang yang terakhir tahu, ya?” Tanyaku sambil memperhatikannya. Laki-laki itu sibuk merapikan barang-barang di meja kerjanya. Setelah mendengar pertanyaanku, gerakan tangannya terhenti sejenak, ia menoleh ke arahku dengan pandangan bersalah.

“Maaf, Ta,” ujarnya penuh penyesalan. “Aku takut kamu kecewa mendengar kabar kepindahanku yang tiba-tiba.”

Tahu apa yang lebih mengecewakan? Kenyataan kalau aku—orang yang dia sebut sahabatnya—jadi orang yang terakhir mengetahui kabar itu. Tapi aku menelan semua kekecewaan itu sendirian karena tidak ingin membebaninya dengan perasaan bersalah. Ia berhak memilih untuk memberitahu atau tidak memberitahuku sama sekali; itu adalah keputusannya dan aku berusaha menghargai apa pun pilihannya.

Hening beberapa saat hingga ia selesai mengemasi seluruh barangnya ke dalam beberapa kardus berukuran sedang. Ia kembali menatapku yang masih sibuk dengan sesuatu di layar handphone dan mengetuk meja kerjaku beberapa kali kemudian berkata, “Yuk pulang.”

Kami berjalan beriringan menuju tempat parkir yang sudah sepi. Sebagian lampu utama telah dipadamkan, menyisakan remang cahaya dari beberapa lampu yang masih dibiarkan menyala. Keheningan di antara kami menjadikan perjalanan itu terasa semakin sunyi. Aku sibuk berdamai dengan rasa kecewa yang tiba-tiba merebak dan ia sepertinya sibuk berusaha mencari topik pembicaraan untuk memecahkan keheningan yang ada.

“Mau mampir makan malam dulu enggak?” Tanyanya saat aku hendak membuka pintu mobilnya.

Aku menggeleng, “Enggak usah deh. Besok jadwal penerbanganmu pagi, ‘kan?”

“Satu jam enggak akan bikin aku kesiangan, Ta.”

Baiklah, mungkin dengan menerima ajakannya bisa mengurangi beban rasa bersalah di dadanya.

“Sebenarnya, aku mau memberitahu rencana kepindahanku sejak lama. Tapi aku takut kamu kecewa karena kamu yang antusias banget waktu pertama kali kita sama-sama diterima,” ia membuka penjelasan.

Gerakanku menyuapkan sesendok nasi goreng berhenti begitu mendengar perkataannya. Pandanganku beralih membaca perubahan emosi di raut wajah laki-laki yang duduk di hadapanku saat ini.

“Ini bukan kepindahan mendadak, Ta. Semuanya udah aku rencanain sejak dua bulan lalu. Waktu itu, kamu lagi sibuk nge-handle project terbaru dan aku enggak mau kabar ini jadi pemecah fokus kerjamu,” ia terus menjelaskan. “Kondisi kesehatan ibuku menurun dan sebagai anak sulung, aku enggak mau membebani adik-adikku di sana. Apalagi, mereka semua perempuan. Diam-diam aku mencari lowongan pekerjaan di Semarang supaya aku enggak perlu meninggalkan ibu dan adik-adikku dengan kekhawatiran.” Ia menyelesaikan penjelasannya dengan nada setenang mungkin. Walau aku yakin di balik semua itu ada berbagai macam emosi yang berusaha dipendamnya.

Tiba-tiba saja aku merasa jadi orang paling egois sedunia. Perasaan kecewa itu rupanya bukti tingginya egoku yang ingin dimengerti sepihak saja. Padahal aku tidak tahu bahwa di balik keputusannya untuk pindah, ia memiliki alasan yang tidak sepele untuk dipertimbangkan.

“Maaf ya, udah jadi beban buatmu melangkah hanya karena takut akan rasa bersalah,” ujarku penuh penyesalan. Sebagai sahabat, aku harusnya menghargai keputusan yang diambilnya tanpa harus menghakiminya. Mungkin selama ini ia berusaha terlihat menikmati keputusanku untuk bekerja di perusahaan yang sama. Namun aku tidak pernah bertanya, apakah ia menyukai pekerjaan yang dilakukannya sekarang? Apakah ia merasa bahagia dengan segala yang dimilikinya?

“Aku enggak menyesali apa pun dalam hidupku, termasuk keputusan untuk merantau ke ibu kota dan bekerja di perusahaan yang sama denganmu. Aku malah bersyukur masih punya teman tempat berbagi di tanah perantauan ini. Kamu enggak pernah jadi beban buatku, Ta. Justru sebaliknya, aku merasa beruntung bisa mengenalmu sejak masuk di kelompok ospek yang sama.”

Aku benci kata-katanya. Air mataku meluncur bebas saat kalimat terakhirnya membawa ingatanku kembali saat kami bertemu di satu kelompok ospek yang sama. Aku yang masih malu-malu untuk berkenalan dengan orang baru, lalu ia dengan semangatnya menyodorkan tangan dan memperkenalkan diri terlebih dahulu.

“Lho, Ta. Kok malah nangis?”

“Habis kamu bikin ingat awal kita ketemu!” Ujarku setengah kesal. Buyar sudah nafsu makanku malam ini. Sepiring nasi goreng di hadapanku kini tak lagi menarik perhatian. Sementara itu laki-laki di hadapanku terus menertawakan mata sembapku sehabis menangis sambil menghabiskan sepiring nasi goreng miliknya.

Selesai makan, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju rumahku. Mobilnya baru saja memasuki persimpangan jalan menuju kompleks perumahan saat aku tiba-tiba berkata,

“Dri, mungkin saat ini jalan hidup kita udah sampai di persimpangan. Sudah waktunya masing-masing dari kita buat memilih arah mana yang akan kita tuju. Mungkin enggak lagi beriringan, mungkin akhirnya kita enggak satu tujuan. Tapi sebagai sahabat, aku enggak akan menghakimi jalan mana yang akan kamu ambil, entah sama atau berbeda tuju denganku. Aku menghargai keputusanmu.”

Laki-laki itu mengalihkan pandangannya. Mungkin kalimat-kalimat itu menyadarkannya akan realitas yang kami hadapi saat ini, sama-sama ingin berjalan sendiri-sendiri namun takut menyakiti satu sama lain.

“Kamu enggak perlu merasa bersalah, Dri. Kamu berhak menentukan apa pun pilihan dalam hidupmu, dan sebagai sahabat aku akan berusaha menghargai itu. Jadi, jangan ragu buat melangkah ke mana pun kamu mau.”

Mobilnya tiba di depan rumahku tepat saat kalimat terakhir selesai kuucapkan. Kali ini, Adrian menatapku dengan kelegaan di wajahnya. Matanya tampak berkaca-kaca, namun sebelum adegan klise terjadi aku menyudahi momen itu dengan berpamitan dan turun dari mobilnya.

“Makasih ya Ta, udah menghargai keputusanku. Titip salam buat orang tuamu, maaf karena aku enggak sempat pamitan dengan baik, padahal mereka udah banyak membantuku selama di Jakarta. Jangan lupa undangan pernikahanmu, harus sampai ke Semarang ya!” Ujarnya dari balik kemudi.

“Iya, nanti kusampaikan. Hati-hati ya buat besok. Salam buat keluargamu juga, semoga Ibumu lekas pulih,” ujarku sambil melambaikan tangan. Ia hanya mengangguk sebelum menutup kaca mobil dan melaju pergi meninggalkanku seorang diri.

Adrian mungkin telah lama memikirkan banyak hal sebelum mengambil keputusan ini: mempertimbangkan kondisi ibunya, karier yang sudah dibangunnya serta orang-orang di sekitarnya. Aku yakin ia pun berada di posisi yang tidak ingin mengecewakan siapa-siapa, padahal ia hanya perlu mengkhawatirkan dirinya sendiri. Ia telah banyak mengorbankan dirinya demi orang-orang di sekitarnya. Mulai dari memutuskan untuk merantau ke ibu kota, bekerja di bidang yang sebenarnya tidak terlalu disukainya, serta keputusan-keputusan lain yang aku tidak tahu. Mungkin ini saat yang tepat untuk menentukan pilihannya tanpa harus terbebani dengan siapa pun.

Saat menatap mobilnya yang melaju pergi, sebuah kesadaran baru muncul di dalam kepalaku, bahwa aku tidak berhak menghakimi keputusan apa pun yang diambilnya hanya karena aku orang terdekatnya. Aku seharusnya menghargai apa pun jalan yang dipilihnya karena di balik keputusannya ia pasti memiliki alasan tersendiri. Mungkin memang lebih mudah menghakimi seseorang daripada mengerti apa yang dia rasakan. Sejak saat itu, aku belajar untuk lebih banyak menghargai dan tidak mudah menghakimi keputusan seseorang.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top