Percakapan yang Hilang

Kapan terakhir kali kita bercakap-cakap panjang, Yah? Sudah lama sekali rasanya semenjak meja makan tak lagi berfungsi sebagaimana mestinya. Sekarang masing-masing dari kita seperti sibuk dengan dunianya sendiri: yang muda sibuk menjadi dewasa, yang tak lagi muda sibuk menghitung tabungan hari tua. Kita semua sibuk seolah-olah ada hal yang lebih berharga dari hangatnya percakapan dari ruang keluarga. Percakapan panjang kini menjadi hal yang asing kehadirannya, padahal banyak hal menarik yang bisa diceritakan sambil duduk dengan segelas teh di teras rumah.

Tapi kurasa, jarak ini bukan tercipta karena masing-masing dari kita berhenti peduli. Mungkin kita cenderung menunjukkan kepedulian dengan tindakan-tindakan kecil yang lebih berarti. Bagimu kepedulian tak selalu ditunjukkan dengan kalimat-kalimat kasih sayang, segala yang dilakukannya sudah lebih dari cukup untuk mengungkapkan yang tak pernah diucapkan.

Dalam diamnya, ayah mungkin sedang menikmati suasana rumah yang kembali hidup setelah lama kutinggalkan. Mungkin ia akan khawatir ketika aku tak lagi memerlukan bantuannya untuk diantar bepergian; ayah terbiasa menyediakanku rasa aman dengan usahanya sendiri. Ia mungkin merasa tenang karena tak perlu lagi mengomentari nilaiku yang jelek, tapi kekhawatirannya melepas sang anak di tanah perantauan pasti tak pernah luput dari kepalanya. Bahkan dalam setiap kepergianku, ayah selalu berusaha menemani. Dan ketika aku pertama kali melakukan perjalanan jauh seorang diri, kecemasan jelas tergambar di raut wajahnya saat melepasku pergi.

Ayah telah banyak mengorbankan hidupnya demi kebahagiaan anak-anaknya. Lewat keputusan-keputusan rahasia atau hal-hal lain yang belum kumengerti artinya. Ayah mungkin lebih sering meredam amarah dari yang kukira. Hanya saja aku tak pandai membaca emosinya dan cenderung memikirkan diriku semata. Maaf, Yah. Aku masih saja jadi anak kecil yang tak mengerti maksud hati kedua orang tuanya. Maaf untuk segala kecemasan yang kusebabkan karena sering bertindak seenaknya.

Aku tak ingin menjanjikan segalanya, sebab aku takut mengecewakan jika tak bisa menepatinya. Namun dengan segenap asa, akan kuperjuangkan segala cita agar kelak mampu membuatmu bangga.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top