Pelukan Ibu Adalah Rumah

Dunia ini begitu kejam, Bu. Begitu juga dengan realitanya. Aku sering kali terombang-ambing dalam kebimbangan soal ke mana harus menambatkan tujuan. Langkahku sudah lelah berjalan tak tentu arah, tersesat dalam belantara harapan dan kenyataan yang terkadang tak sejalan. Hidup ini rumit, Bu. Begitu juga dengan peraturan di dalamnya. Aku harus memiliki harta untuk dibilang sukses; harus berpendidikan agar mendapat kehormatan; harus berprestasi agar dipuji. Serta banyak lagi aturan dalam hidup ini yang rasanya mencekik sekali.

Terkadang aku berpikir mengapa aku harus dilahirkan ke dunia? Aku nyaman dalam pelukmu yang hangat dan terlindung dari segala yang jahat. Bu, aku ingin tetap di sini saja, duduk bersamamu dan menghabiskan sereal sambil minum susu. Aku tidak ingin keluar dari kenyamanan yang selalu kau sediakan, enggan rasanya mencari kenyamanan lain yang belum tentu akan kutemukan.

Tapi, Bu, kau bilang aku harus pergi sejauh-jauhnya, mengejar cita-cita setinggi-tingginya. Kau bilang aku harus bangkit setiap kali realita menjatuhkanku. Aku harus bulatkan tekad untuk terus melangkah dan tumbuh menjadi lebih kuat. Kenyataannya, hidup tak selalu memberikan jawaban atas pertanyaan yang sering kali mengganggu pikiran. Pun terkadang aku tidak punya pilihan selain menerima yang sudah ditakdirkan. Pada akhirnya aku hanya perlu berpasrah, setelah segala daya dan usaha telah dikerah.

Bu, aku masih belum tau. Apa yang sebenarnya aku cari di dunia ini? Segalanya terasa semakin abu-abu dan luka-luka itu semakin membiru. Jika menemukan kenyamanan adalah tujuan, seharusnya aku tidak pernah pergi. Rumah telah menyediakan segala nyaman yang aku ingin. Namun rupanya rasa nyaman saja tidak cukup dalam hidup ini. Kau bilang aku harus keluar dan mencari jati diri.

Bukankah kita semua berawal dari rumah? Lantas untuk apa sibuk mencari arah, kalau rumah selalu menjadi tujuan pulang setelah jauh melangkah?

Aku merindukan pelukanmu, Bu: rumah bagi segala keluh dan peluh anak-anakmu; rumah yang tak pernah menghakimi seburuk apa pun diri ini; rumah yang selalu menyediakan telinga untuk berbagi.

Karena aku tak menemukan kenyamanan lain selain pelukanmu. Nasihatmu yang selalu berhasil mengumpulkan kembali puing-puing lelahku. Serta dukunganmu yang selalu membuatku yakin setelah berulang kali terjatuh dan tersungkur.

Bu, bagaimana jika tak kutemukan pelukan lain yang menenangkan selain dirimu?

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top