Mulai Hari Ini

Orang bilang, usia kepala dua adalah waktu yang tepat untuk mulai meniti karier, memikirkan masa depan, dan banyak hal lain yang membuat kepala penuh sesak dengan pikiran-pikiran yang tak menyenangkan. Usia kepala dua seolah menjadi gerbang untuk memasuki masa berburu dan diburu. Selain sibuk memburu pendapatan, kita juga diburu oleh banyak tuntutan. Sejak memasuki usia dua puluh, pertanyaan-pertanyaan berkedok basa-basi yang terdengar menuntut sering kali mampir di telinga. Kadang, di sela-sela rentetan pekerjaan aku kerap bergumam dengan isi kepalaku sendiri,

Apakah hidup adalah sederetan pertanyaan yang tak berhenti datang?

Apakah aku harus bisa menemukan semua jawabannya sekarang?

Apakah pertanyaan itu memiliki tenggat waktu untuk segera diselesaikan?

Aku baru pertama kali menjalani hidup di usiaku saat ini. Aku tak tau cara menghadapi segala rintangan dan pertanyaan yang baru pertama kalinya kutemui. Ah, sudahlah. Perjalanan masih terlampau panjang untuk memikirkan hal-hal yang tak menyenangkan. Masa depan tak seharusnya berubah menjadi beban yang memberatkan pundak atau pikiran-pikiran yang membuat kepala penuh sesak.

Dulu, aku begitu pandai menyusun berbagai rencana, walau pada akhirnya aku hanya bisa pasrah ketika kenyataan tak berjalan sesuai dengan yang kuharapkan. Sejak beberapa tahun lalu, aku pun berhenti merancang seribu satu rencana di dalam kepalaku. Kini aku hanya ingin berfokus pada setiap proses yang sedang kujalani dan menikmati langkah demi langkah yang berhasil kulewati. Aku merayakan setiap proses bertumbuh sebagai bagian dari pencarian jati diri.

Masa depan rasanya terlalu besar jika harus dipikul dalam pundak yang terlampau sempit. Merancang masa depan juga bukan sebuah ujian tulis yang harus diselesaikan dalam waktu yang sudah ditentukan. Masa depan tak memiliki tenggat waktu. Maka kita semua bisa merancangnya kapan pun tanpa perlu merasa terburu-buru. Kamu bisa memulainya hari ini, besok, atau kapan pun dirimu merasa siap untuk mulai menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam hidup.

Bagiku, merancang masa depan yang sesungguhnya dimulai dari membenahi cara berpikir kita tentang hidup, dengan tak menjadikan masa depan sebagai tuntutan dan memaknai hidup sebagai sebuah proses yang berkelanjutan. Kita semua akan bertumbuh pada masanya, kita bergerak sesuai dengan kecepatan yang kita punya, dan masing-masing dari kita memiliki kemampuan berbeda yang tak pantas dibandingkan antarsatu sama lain. Masa depan tak seharusnya menjadi sesuatu yang diburu oleh pencapaian sehingga membuat kita lupa untuk memaknai arti kehidupan.

4.3 7 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top