Mencintai dan Merelakan

Purnama tidak hadir malam ini. Tanda tanya di kepalaku belum juga menemukan titik terang dari segala teka-teki yang datang menghampiri. Sudah beberapa kali kucoba tanggalkan wajahmu dari mimpi, tapi kau menolak pergi. Kau menanggalkan setiap kebahagiaan dan meninggalkan seberkas kenangan. Yang tersisa darimu adalah hampa dan perasaan kehilangan. Semenjak hari itu, aku tidak bosan-bosan mendengarkan detik yang berganti seolah berharap waktu dapat kuputar kembali. Nyatanya kehilanganmu tetap terasa menyakitkan walaupun sudah kupersiapkan diri akan segala kemungkinan buruk yang terjadi.

Rupanya, aku tidak juga menjadi dewasa dengan berbagai upaya untuk terlihat lebih kuat. Sembilu dari hari-hari yang lalu masih saja jadi bayangan hitam yang enggan melepaskan diri dari kenyataan. Tidak ada yang baik-baik saja kali ini. Namun hidup mengajarkanku untuk menerima segala hal yang menyakitkan sebagai bagian dari pendewasaan, bahwa melepaskan berarti menerima kenyataan dengan lapang walau sebagian dirimu merasa rumpang.

Pada detik ini, aku sadar bahwa upaya terakhirku untuk mencintaimu adalah melepaskan. Denganmu, mencintai adalah seluas-luasnya merelakan. Maka seperti pintamu; ‘kan kukemasi segala kenang yang kautinggalkan bersama sisa-sisa kesedihan di ujung malam. Lalu bergegas pergi dengan kereta paling pagi, sebelum matahari meninggi. Akhirnya aku hanya akan menatap punggungmu yang terus menjauh dan tidak akan pernah berjalan ke arahku. Namun yang berlalu biarlah menjadi sesuatu yang akan dikenang saat semua luka tidak lagi membiru. Dua dari kita sudah cukup lelah untuk menangisi takdir yang tidak sejalan dengan harapan. Kali ini segala yang bisa kuupayakan untukmu adalah mengikhlaskan.

Mari sudahi. Kita tidak akan pernah kalah dengan perasaan sendiri, hanya saja, kita juga tidak akan menang atas takdir kali ini. Kita tidak pergi untuk saling meninggalkan; melainkan belajar bagaimana sebuah proses melepaskan dapat begitu mendewasakan. Seperti katamu: kita menang atas diri kita sendiri, namun kalah pada sesuatu yang pernah begitu kita percayai.

Kini biarkan waktu menyelesaikan akhir yang tidak pernah mampu kita rampungkan. Atas apa pun yang pernah kita usahakan bersama, mari sudahi cerita ini dengan akhir yang sebaik-baiknya. Masing-masing dari kita berhak untuk sembuh dari segala luka yang pernah begitu membiru. Walau harus menempuh ribuan purnama lagi; walau tak lagi saling mengasihi.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top