Melepaskan Kesedihan

Jarum jam berdenting detik demi detik. Mencekik tiap kesedihan yang tak habis dimakan jaman, memenjarakan tiap luka yang tak kunjung menemukan obatnya. Terkadang aku malu dengan dinding-dinding kamarku; mereka hafal betul deritaku seperti dongeng yang tak bosan-bosannya diceritakan dari waktu ke waktu. Dari sela-sela jendela kamar, angin malam berhembus seolah berusaha menenangkanku yang terkungkung dalam kesendirian. Aku terpenjara dalam nestapa di genggaman tanganku sendiri; menolak pergi tapi tak juga ikhlas mengakhiri.

Saat gelap menyelimuti tiap raga yang terlelap, semua luka itu mengudara di langit-langit kamarku. Menjagaku hingga fajar datang dan meredam segala keributan di kepala. Lalu keesokan harinya aku akan terbangun dengan ingatan yang remuk redam oleh kesedihan. Dan orang-orang akan sibuk bertanya kenapa tapi aku tak pernah mampu menjelaskannya dengan kata-kata.

Hari merangkum bulan dan tahun. Tiap langkah yang kupijaki bergulir mengukir kisah dan sejarah. Aral, terjal, terjatuh dan terbentur—hidup banyak mengajarkanku kepahitan dan kerumitan yang disembunyikan ibu dari kenyataan. Maka aku harus belajar menerima segala yang menyakitkan itu dan mengubahnya menjadi kebahagiaan. Seseorang pernah berkata padaku bahwa aku tak bisa hidup hanya dengan rasa bahagia. Aku harus merasakan sakit, pahit, dan terluka agar tau arti bahagia sesungguhnya. Ia berkata, sedih dan bahagia adalah dua hal yang saling mengikat dengan sepakat. Aku tidak bisa memilih salah satunya; keduanya harus diterima sebagaimana mestinya.

“Kebahagiaan dan kesedihan adalah siklus kehidupan yang terus berputar tanpa kepastian; kadang berputar searah jarum jam, kadang berlawanan dengan keinginan. Kau hanya harus menerima keduanya, kapan pun waktunya tiba,” ujar laki-laki itu. Darinya aku banyak belajar tentang bagaimana cara menghadapi kesedihan, merawat luka-luka yang tak kunjung sembuh, serta berdamai dengan kehilangan. Namun seperti semua hal dalam hidupku, hadirnya hanyalah untuk sementara waktu.

Setelah kepergiannya aku belajar cara mengurai luka menjadi bahagia. Aku pun harus kembali berdamai dengan kesendirian dan kesedihan yang tak kunjung selesai. Kalimat ucapannya sering kali terngiang di telingaku, di antara percakapan orang-orang di kereta, atau di sela-sela interlude lagu yang mengalun di telinga. Seolah menjadi pengingat bahwa seperti kesedihan, bahagia juga akan tiba pada waktunya.

Waktu berlalu ketika tak sengaja kutemukan kabarnya dari lini masa. Hidupnya tampak baik-baik saja. Setelah pergi berjejak kecewa, ia kembali menyapa seperti tak pernah terjadi apa-apa. Ia bertanya kabar, sedikit berbasa-basi menanyakan bagaimana rutinitasku yang sekarang. Tidak ada yang berubah, kubilang. Hidupku hanya semakin terasa membosankan. Di ujung percakapan via telepon itu ia kemudian berkata;

“Berbahagialah, Senjani. Lepaskanlah semua kesedihan yang lama kaupeluk sendiri, kau berhak atas segala hal baik di dunia ini. Jangan menutup dirimu. Sama sepertiku, kau pun berhak menemukan kebahagiaan yang baru dalam hidupmu.”

Ucapannya selalu benar, tepat mengenai titik kelemahanku yang selama ini kusembunyikan dalam-dalam. Sebuah kesadaran menyergapku seperti mimpi yang sudah lama ditunggu hadirnya. Sudah saatnya aku meletakkan bahagia pada genggaman tanganku sendiri, bukan pada orang lain agar aku mampu menggenggamnya dengan bebas dan tak perlu menangisinya ketika kebahagiaan itu terlepas. Bahagia adalah tujuan yang harus kucari sendiri jalannya, walau harus menempuh aral dan terjal, walau menempuh belantara kesedihan seorang diri, walau harus jatuh berkali-kali. Mungkin perjalananku menuju bahagia masih jauh sekali, mungkin aku akan tiba esok atau lain hari. Yang harus kulakukan adalah terus berjalan, menerima dan membuka diri dengan segala kemungkinan. Bahagia adalah tanggung jawabku sendiri, dan aku tak perlu lagi menggantungkan bahagiaku pada orang lain.

6
Leave a Reply

avatar
3 Comment threads
3 Thread replies
1 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
4 Comment authors
iin isnainiNitongMeida Salwa AnisaLaely Najma Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Laely Najma
Guest
Laely Najma

Keren! Terima kasih atas karya-karyanya menjadi manusia~

iin isnaini
Guest
iin isnaini

Haloo terimakasih sudah membaca 🙂

Meida Salwa Anisa
Guest
Meida Salwa Anisa

Tulisan ini sedikit memojoki diri saya, betapa bodohnya saya yang sampai saat ini masih bergelut dengan asa kesedihan yang tidak ada titiknya. Saya masih seringkali menyalahkan diri sendiri atas segala hal di kehidupan ini, saya terus mencari titik kebenaran yang tidak akan pernah berpihak pada saya, dan lagi-lagi itu semua yang membelenggu segala hal yang seharusnya bisa membuat saya lebih bahagia. Terimakasih sudah mengingatkan ya. Berharap suatu saat tulisan-tulisan yang ada di noted Handphone saya bisa terpampang disini dan menguatkan jiwa lain yang membacanya.

iin isnaini
Guest
iin isnaini

Haloo, terimakasih sudah membaca. semoga kamu lekas terlepas dari segala hal yang merundung kesedihan dan bertemu dengan kebahagiaan. Semangat ya 🙂

Nitong
Guest
Nitong

Halooo.. Sebelumnya saya mengucapkan selamat ya pada akhirnya kamu berhasil menemukan titik terang atas kesedihan yang sudah lama bergelayutan pada dirimu. Terima kasih sudah membagikan kisah inspiratif ini, semoga bahagia selalu menghampirimu!!

iin isnaini
Guest
iin isnaini

Haloo, terimakasih sudah membaca, semoga segala do’a baik kembali ke kamu ya 🙂

Top