Lebih dari yang Kubayangkan

Ternyata ada satu hal yang juga menjadi barang mahal saat pandemi datang: kewarasan. Berbulan-bulan berada di satu tempat yang sama, menghadapi rutinitas dari pagi ke pagi yang terus berulang, tekanan pekerjaan, serta kejenuhan dari pertemuan-pertemuan virtual membuat kewarasan menjadi hal yang mahal untuk dipertaruhkan.


“Harus ke mana lagi kucari kewarasanku hari ini?” Ujarku di suatu pagi yang lambat.


Aku terbangun ketika matahari sudah meninggi dan seluruh keluargaku telah sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Masih sama dengan hari-hari yang lain, aku berjalan terseok menuju kamar mandi dan membasuh sisa-sisa air mata malam tadi, walau sebenarnya aku telah kehilangan ingatan mengapa aku menangis tersedu-sedu semalaman. Sambil menyisir rambut, aku menatap pantulan diriku di hadapan cermin. Ke mana lagi harus kucari kewarasan yang dulu begitu mudah dibeli?


Aku menyalakan laptop dan mulai berselancar di dunia maya. Di mana kiranya aku bisa menemukan secercah kewarasan yang semakin langka kehadirannya? Namun nihil, yang kutemukan hanya berita-berita bohong yang menakut-nakuti, diskon tiket perjalanan jarak jauh yang tak bisa kubeli, serta kabar duka yang datang silih berganti. Ah, mungkin yang ingin kutemukan tak bisa kutemukan dari dunia yang maya ini.


Perhatianku teralihkan pada setumpuk buku-buku yang telah lama tak terjamah tangan. Aku meraih satu yang berada di posisi paling kanan, sebuah buku harian hadiah dari temanku saat usiaku masih terbilang belasan. Aku lupa kapan terakhir kali menuliskan sesuatu di sana. Kubuka lembar demi lembar yang membawa ingatanku berkelana ke momen-momen di dalamnya. Sesekali aku tertawa dan menggeleng tak percaya. Ternyata sejak dulu, aku memang berbakat dalam mengeluhkan segalanya. Beberapa tulisan di sana bahkan menceritakan dengan lantang betapa lemah diriku saat tengah menghadapi cobaan.


Tapi rupanya, aku tak selemah yang kubayangkan. Buktinya, meski berkali-kali dihadapkan dengan situasi yang tak mudah, aku tak pernah memutuskan untuk menyerah. Meski harus berakhir menyusun puing-puing harapan dengan hati yang berdarah, aku tak pernah berpikir untuk pasrah. Membaca kembali buku harian itu seperti menemukan separuh kewarasanku yang pergi. Mengingat bagaimana perjuanganku hingga berada di titik saat ini membuatku sadar bahwa aku selalu bisa menjadi lebih kuat dari yang kubayangkan.


Maka jika hari ini aku belum berhasil mendapatkan apa yang aku inginkan, aku tak ingin menyerah pada keadaan. Selalu ada kesempatan untuk bangkit dan kembali melanjutkan perjalanan. Mungkin, aku tak selalu melewati hari-hariku dengan melakukan sesuatu yang produktif seperti banyak orang. Mungkin, pandemi ini tak membuatku menemukan bakat-bakat terpendam seperti yang ramai dielu-elukan. Namun yang terpenting, aku masih bisa menjadi diriku sendiri dan bertahan di tengah banyaknya ketidakpastian.

4.8 4 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top